Mengapa Kepartaian Minus Gagasan?

Kompas (Surat Redaksi), 23 Mei 2014

Mengapa Kepartaian Minus Gagasan?

Oleh Sayfa Auliya Achidsti

Parpol menjadi salah satu syarat berjalannya mekanisme demokrasi sebuah negara. Kesempurnaan demokrasi muncul dari adanya kompetisi antarparpol memperebutkan pengaruh. Publik dihadapkan pada alasan-alasan tertentu sebagai dasar pilihannya mendukung salah satu parpol.

Oleh karena itu, keberadaan parpol dengan diferensiasinya adalah prasyarat masyarakat politik yang rasional. Dengan adanya diferensiasi (perbedaan) antarparpol, publik dapat menjatuhkan pilihannya.

Pertanyaannya kemudian, apakah kepartaian telah bisa menyediakan alasan-alasan rasional bagi publik dalam memilih parpol? Terutama dengan karut-marut opini publik yang berkembang hari ini, adakah kebaruan yang ditawarkan parpol kepada konstituennya?

Pragmatisme

Agenda partai adalah dasar diferensiasi antarparpol yang terbentuk dari gagasan parpol dan karakteristik basis masa dalam hubungan resiprokal (Neumann, 1982). Sehingga, produksi gagasan jadi hal yang wajib ada dalam hidupnya sebuah parpol (Macridis, 1988).

Namun, agaknya idealitas tentang kepartaian menjadi hal yang sulit diwujudkan. Belakangan ini dua perhelatan parpol besar—Munas Partai Golkar dan Muktamar PPP di akhir 2014—malah menghasilkan konflik berkepanjangan dualisme kepemimpinan. Sedangkan, Kongres Partai Demokrat dan Kongres PDIP masih punya “pekerjaan rumah” memproduksi pemimpin baru partai. Aklamasi SBY dan Megawati sebagai Ketua Umum masih tanpa tanding.

Kepemimpinan punya arti besar bagi parpol. Bukan hanya menentukan arah partai, kepemimpinan adalah wajah dari fakta sistem kepartaian yang sebenarnya dijalankan. Empat kongres partai terbesar itu menunjukkan bahwa masih ada masalah-masalah mendasar kepartaian di Indonesia.

Pertama, pragmatisme politik yang selalu jadi kerangkeng produksi gagasan partai. Parpol hanya dijadikan instrumen politisi mengakses sumber daya negara. Pertempuran fungsi legislatif-eksekutif oleh Koalisi Merah-Putih dan Koalisi Indonesia Hebat pasca Pemilu 2014 adalah imbas pragmatisme politik ini. Pada perkembangannya, perpecahan antara Aburizal Bakrie/Ical-Agung Laksono (Partai Golkar) dan Djan Faridz-Romahurmuziy (PPP) lebih cenderung sebagai pertarungan jaringan politik personal; bukan gagasan kepemimpinan.

Kedua, sangat kentalnya patronase politik dalam partai. Pola semacam ini menghasilkan perkembangan parpol yang tidak sehat. Dalam patronase, ketua partai seakan-akan adalah pemilik partai. Akibatnya, jaringan politik tidak dinamis karena lebih sebagai sumber daya/saham personal.

“Restu ketua partai” jadi faktor determinan yang wajib diperoleh tokoh baru untuk muncul dalam parpol. Figur segar dengan jaringan ekonomi-politik bentukannya sendiri adalah hal yang langka—jika tidak disebut ‘tidak ada’. Padahal, fleksibilitas jaringan para kader inilah yang dapat memunculkan kemungkinan-kemungkinan kebaruan dan perkembangan partai, termasuk soal gagasan dan agenda.

Pragmatisme dan patronase dalam kepartaian adalah dua hal yang hubungannya saling menguatkan. Pertentangan Ical-Agung di Golkar dan Faridz-Romahurmuziy berkembang ke arah pengkubuan, karena mau-tidak-mau perpecahan elit partai jadi permainan zero sum game bagi kader-kader yang jadi loyalisnya. Kader partai dalam fait accompli, “harus” memilih di mana kelompoknya dengan harapan tetap bisa mengakses sumber daya ekonomi-politik.

Apakah dengan lancarnya kongres di Partai Demokrat dan PDIP berarti kedua partai tersebut tidak mengalami masalah? Justru dengan masih aktifnya SBY dan Megawati di partainya sebagai pendiri, partronase terhadap the great people masih terlalu mapan untuk terjadi perpecahan.

Merampungkan Internal

Mayoritas parpol belum rampung menyelesaikan urusan rumah tangganya. Persoalannya, hal ini telah menjadi kecenderungan yang “mapan” dalam kepartaian di Indonesia. Di tingkat publik, kompetisi antarparpol bukan mengenai perebutan pengaruh dengan menjual gagasan dan agenda.

Parpol dengan basis masa ideologis seperti PKB, PDIP, PKS, PPP, PAN, dan PBB nyaman dengan konstituen yang cenderung tetap. Tugasnya tereduksi hanya menjaga suara. Sedangkan, parpol lain belum menemukan formulasi strategis selain dari figuritas pimpinan partai, yang hampir semuanya adalah tokoh senior. Padahal, aspek umur figur parpol sangat mempengaruhi ketertarikan konstituen. Jumlah pemilih pemula mencapai 14 juta dan pemilih muda 45,6 juta (KPU, 2014), yang akan lebih memilih nuansa muda dalam parpol.

Dalam negara demokrasi, pembenahan kepartaian adalah bagian pembenahan pemerintahan. Sehingga, parpol bukan hanya konsumen dari hasil sistem demokrasi, melainkan ambil bagian membangun demokrasi. Terdapat beberapa hal substantif dalam upaya ini.

Pertama, membangun iklim demokrasi di dalam parpol. Demokrasi internal adalah dasar dari perkembangan parpol itu sendiri. Mendorong fleksibilitas sumber daya politik kader dan mengakomodasi gagasan kader dari tingkat daerah adalah penguatan kelembagaan partai.

Penguatan kelembagaan akan menyehatkan parpol sebagai mesin politik yang bekerja dalam sistem egaliter, bukan hanya kerja elit (elite business) demi keuntungan segelintir elit (elite capture). Dengan sistem yang demokratis di internal parpol, perkembangan sumber daya partai sebenarnya justu akan lebih dinamis.

Kedua, merancang grand design partai, yang meliputi gagasan utama, agenda parpol, dan blue print strategi implementasi. Di sinilah kemudian kongres akan berfungsi sebagai perhelatan yang membawa nuansa perubahan, bukan hanya rutinitas suksesi. Grand design partai, di samping sebagai diferensiasi antarparpol dan alasan rasional konstituen, akan memunculkan akuntabilitas sosialnya.

Kedua hal tersebut secara perlahan akan mengubah wajah parpol. Jangan sampai, harapan publik kepada parpol semakin menurun seperti tren yang selama ini terjadi di setiap Pemilu. Publik butuh alasan untuk memilih.

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: