Hugo Chavez dan Warisan Sosialisme?

Majalah KONGRES, Mei 2013

Hugo Chavez dan Warisan Sosialisme?

Sayfa Auliya Achidsti

Presiden Venezuela ke-72, Hugo Rafael Chavez Frias, tutup usia pada usianya yang ke-58, pada 5 Maret lalu. Hari itu menjadi hari di mana mayoritas rakyat Venezuela dengan meninggalnya presiden yang hampir seluruh rakyatnya fanatik dengan sifat populismenya. Chavez meninggal dalam perawatan infeksi barunya, menyusul adanya perawatan kanker yang sedang dijalaninya. Penyakit kankernya ini pula yang menyebabkan Chavez sudah hampir tidak pernah tampil ke publik, sejak perawatan yang dijalani di Kuba.

Chavez sendiri telah menjabat sebagai Venezuela-1 selama kurang-lebih 14 tahun sejak terpilihnya pertama kali pada 2 Februari 1999 melalui pemilu langsung. Pada pemilu pertamanya (pemilu langsung), Chavez menjabat 3 tahun dan digantikan oleh “presiden-presiden” selanjutnya, Pedro Carmona Estanga dan Diosdado Cabello Rondon.

Pemuda dan Revolusi Venezuela

Perjalanan politik Chavez, dengan segala heroisme yang dilakukannya untuk menentang kondisi politik dan menegakkan sistem sosialisme yang sangat di-anti-kan oleh AS, boleh dibilang berjalan mulus. Sebelum menjadi presiden, Chavez menjadi ketua dari partai politik Gerakan Republik Kelima (didirikan pada 1997 hingga tahun 2007). Partai ini pada perjalanannya bergabung dengan beberapa partai lain dan membentuk Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV).

PSUV, pada perkembangan selanjutnya, bisa disebut bentuk politik yang unik, di mana secara populer dikaitkan dengan kebangkitan gerakan pemuda yang menguat di Venezuela. Pada saat itu, sekitar ratusan perwakilan pemuda dari seluruh negara bagian berkumpul, selain dari kekuatan partai politik yang telah terbentuk sebelumnya, di daerah Puerto Ordaz (negara bagian Bolivar) dalam Kongres PSUV. Kongres ini kemudian membahas beberapa permasalahan, antara lain mengenai: kepemudaan, sosialisme, dan ketahanan nasional; pangan dan energi; struktur organisasi, dan berjalannya revolusi yang saat itu sedang dalam proses. Kongres ini menghasilkan Dokumen Cariuachi yang dilakukan secara disiplin oleh organ-organ kepemudaan di Venezuela. Dokumen ini beberapa di antaranya berisi mengenai pembentukan, pengorganisiran, dan pengkaderan orang-orang baru untuk memperluas revolusi di Venezuela

Hal yang kemudian menarik lagi dari Dokumen Cariuchi adalah substansi yang terbilang “populer”, dengan adanya pembahasan mengenai tindakan-tindakan rasis, homofobia, seksis, maupun tindakan penghinaan dan diskriminasi lainnya. PSUV dengan anggota yang merangkul elemen pemuda pada kenyataannya bergerak pada isu populer yang sanggup merangkul animo pemuda secara umum dalam arus revolusi politik. Perjuangan “populer” ini mendapatkan momentum dan dukungan politiknya dengan terpilihnya Chavez sebagai presiden Venezuela pada saat itu. Kongres saat itu pada akhirnya juga mendukung secara politis mengenai tindakan Chavez yang mengusir diplomat AS dari negaranya, dan kembali menjadi eforia identitas sosialisme dari Venezuela. Hal ini semakin menjadi ramai pada saat meruak isu mengenai rencana pembunuhan Chavez, yang kemudian isunya berkembang menjadi isu internasional yang melibatkan beberapa negara tetangga: Paraguay, Guatemala, Ekuador, dan Bolivia.

Chavez, dengan membawa revolusi dan popularitasnya, memperkenalkan “Sosialisme Abad ke-21” dan melakukan konsentrasi pada beberapa kebijakan revolusi sosialis di Venezuela, yang dia sebut sebagai “Revolusi Bolivarian”. Terlepas dari persoalan popularitas sosialisme dan Revolusi Bolivarian yang kemudian dibangun Chavez, kebijakan dalam dan luar negeri Venezuela di bawah Chavez pada perkembangannya mengambil jalur populis, dalam artian bahwa secara politis mengambil posisi yang sedikit banyak “berbeda” dengan kebijakan-kebijakan ala AS. Misalnya, konstitusi baru, demokrasi dewan, nasionalisasi industri-industri, peningkatan alokasi dana negara untuk rakyat dalam hal kesehatan, pendidikan, dan kemiskinan.

Populisme Chavez

Masa kecil Chavez dilahirkan pada lingkungan keluarga dari kelas pekerja di Sabatena. Chavez remaja mengambil jalur dalam karir militer dan dalam lingkungan militer ini, uniknya, dia membangun sendiri kekuatan politiknya dan mendirikan Gerakan-200 Bolivarian Rahasia Revolusioner (MBR-200). Gerakan inilah yang kemudian pula melakukan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Carlos Andres Perez pada 1992, namun gagal dan sempat dipenjara 2 tahun karenanya. Selepas masa penjaranya inilah dia membentuk Gerakan Republik Kelima.

Gerakan dengan arus revolusi ini kemudian mengambil hari rakyatnya dengan memenuhi tuntutan mereka lewat Misi/Revolusi Bolivarian tersebut. Secara teknis, misalnya, Dewan Komunal dan para pekerja dikelola oleh koperasi. Maka, rakyat secara elementer dan organisasional mendapatkan posisi politiknya di tiap-tiap institusi dan lingkungan kerjanya. Berikut dengan program reformasi agraria dan nasinalisasi industri. Selepas masa pemilu selanjutnya, yang dimenangkan Chavez kembali, Venezuela diarahkan pada kebijakan anti-imperialis, anti-neoliberalisme, dan anti-kapitalisme laissez-faire yang dengan ini artinya adalah deklarasi yang lebih terbuka pada AS. Hal ini disambut oleh rakyat dengan semangat sosialismenya, dan dibalas oleh AS dengan pembentukan opini publik mengenai keotoriteran dari Chavez. “Pasang merah muda” adalah sebutan bagi aliansi antara Chavez, pemerintahan komunis dari Fidel dan Raul Castro di Kuba, pemerintahan sosialis Evo Morales di Bolivia, Rafael Correa di Ekuador, dan Daniel Ortega di Nikaragua. Mayoritas Amerika Latin seakan digambarkan dengan adanya “pasang merah muda” ini dengan berbagai kerjasama antarnegara yang kemudian dilakukan serta pendirian Uni Pan-Regional Selatan Bangsa Amerika, Aliansi Bolivarian untuk Amerika, Bank Selatan, dan akhirnya pendirian televisi Amerika Selatan.

Kudeta yang dilakukan Hugo Chavez tahun 1990-an awal, sangat dipengaruhi oleh adanya perubahan sosial yang telah terjadi sejak sekitar 20 tahun sebelumnya. Chavez sendiri adalah produk dari konstelasi kelas yang spesifik, sehingga peran dan permainan Chavez sendiri bukanlah menjadi penyebab satu-satunya dari perubahan di Venezuela. Namun, Chavez bisa disebut dengan aktor yang memiliki peran besar pada perkembangan salah satu kelompok yang tadinya tersisihkan. Chavez memang tidak-bisa-tidak disebut sebagai pimpinan/figur yang memiliki kekuatan untuk menyatukan kekuatan-kekuatan kecil di Amerika Latin.

Pada perkembangannya, Chavez memang mampu memiliki kekuatan ini karena kuat secara politis, loyalitas dari rakyat pun selalu menguat terhadap Chavez karena pencitraan yang rutin dan populis selalu dilakukan oleh Chavez.

Dalam pandangan umum, berkaitan pula dengan efek psikologis “penghormatan terhadap almarhum”, Chavez akan dianggap sebagai orang agung yang mati dengan segala kehormatannya. Apalagi, yang ditinggalkannya adalah citra anti-Amerika. Bagi negara dan poros politik yang sepaham, Chavez akan dianggap sebagai pejuang; sedangkan oleh para pihak yang tidak dalam kubu Chavez, paling tidak Chavez akan dianggap sebagai orang yang mau angkat pedang melawan raksasa Amerika.

Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, sebenarnya Chavez dan segala kebesarannya tersebut sangat tidak bisa terlepas dari “siapa yang melahirkannya”. Bagaimana sosok dan imaji mengenai “Chavez” terbentuk, dengan berbagai karakter, sikap, teriakannya, dan kebijakan negaranya? Venezuela dengan rakyat yang telah sadar politik, dan elemen-elemen yang minor secara ekonomilah “ibu” dari Chavez. Kondisi sosial di Venezuela, mau tidak mau menempatkan Chavez pada sosok “chavez” yang sekarang, kepopulisan seorang pemimpin.

Kesadaran politik dari rakyat, dengan safari politik rutin yang selalu dilakukan Chavez yang sebenarnya hanya komunikasi satu arah, meningkat. Kesadaran politik rakyat ini terbentuk secara perlahan dan menguat pada perkembangannya, dan hingga kini pasca matinya Chavez hal ini relatif tidak berubah. Rakyat tidak serta-merta kehilangan kekuatan politiknya.

Dari personalitas Chavez, Simon Bolivar dan Fidel Castro adalah tokoh yang menjadi “idolanya”. Chavez sebenarnya bukan segalanya sebagai pemimpin kiri, namun lebih cenderung pada sosialis, memang. Dan sikap populis sebagai pemimpin yang semacam ini dilakukan Chavez karena rakyat dan kondisi sosialnya memang tidak memungkinkan untuk Chavez tidak populis.

Akan tetapi, hal ini tidak bisa juga diartikan dengan serta-merta mengatakan bahwa Chavez tidak berpretensi untuk menjadi corong kebijakan populis di Venezuela. Bagaimanapun, Chavez adalah bagian dari Venezuela dan sebaliknya. Chavez sendiri merupakan tokoh besar dan memiliki kemampuan untuk menyatukan banyak elemen rakyat yang terpencar.

Pada 12 April 2002, Chavez jatuh dari kekuasaannya dengan tekanan dari kelompok militer, dan digantikan Pedro Carmona yang merupakan tokoh yang disokong oleh militer, ekonom kamar dagang di Venezuela. Jaksa Agung Venezuela, Isais Rodriguez, menyatakan bahwa pengangkatan Carmona tersebut inkonstitusional. Dalam dekrit yang diumumkan oleh pemerintahan sementara tersebut, antara lain menginstruksikan adanya Dewan Konsultatif sebagai penasihat presiden dan presiden akan mengkoordinasikan kebijakan pemerintahan transisi dengan otoritas penuh. Oleh internasional, dekrit ini mendapat banyak kritik, bahkan Presiden Meksiko, Argentina, dan Paraguay secara terbuka mengatakan bahwa “pemerintahan baru” Venezuela ini tidak sah sebelum diadakannya Pemilu.

Esok harinya, Chavez kembali menduduki kekuasaannya, dan Carmona terpaksa untuk mengumumkan pernyataan pengunduran dirinya setelah melalui proses politik yang singkat dan ketidaksetujuan banyak pihak, dikukuhkan dengan adanya pernyataan Jaksa Agung tentang kudeta yang tidak sah.

Chavez disebut sebagai pemimpin populis, pada dasarnya karena kebijakan-kebijakannya bertentangan dengan Washington Consensus yang merupakan simbol dari kebesaran Amerika. Melihat tokoh-tokoh Amerika Latin lain, Eva Peron (Argentina) berbeda dengan kepemimpinan Néstor Kirchner, misalnya. Dia masih bisa berembug dengan IMF, Bank Dunia, dan lembaga donor lain; Lula da Silva, dengan model kemepimpinan moderat, bisa berbicara dengan lembaga donor dan pihak Amerikanis. Namun, kedua pemimpin ini tetap dipaksa untuk bersikap populis, karena memang masyarakat terbawah di negaranya adalah kelompok yang secara politis kuat.

Lebih lanjut, Amerika Latin adalah “backyard” dari Amerika Serikat. Amerika Latin sebagai “The Big Other” dari politik dan eksistensi AS kehilangan satu tokoh populernya, Chavez. Dengan adanya situasi dan kondisi politik rakyat Venezuela, dan “The Big Other” yang hilang, apakah akan muncul chavez-chavez yang lain? Waktu yang akan mengatakan.

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: