Jejak Pembaharu yang Terlupakan

Sebagai “Kata Pengantar”, dalam Kiai Tanpa Pesantren (Yogyakarta: Gama Media, 2013)

Jejak Pembaharu yang Terlupakan

Oleh Sayfa Auliya Achidsti

 Indonesia dari sisi historis memang selalu unik dan menarik untuk dikaji lebih dalam. Ada saja cerita yang menarik seputar perjalanan bangsa dan negara ini. Entah itu dari pembicaraan mengenai sejarah kerajaan, perjuangan kepahlawanannya, kebiasaan dan tingkah laku, dan lain-lain. Hal tersebut jelas, karena Nusantara ini sudah melewati begitu banyak fase dan masa yang menjadi bagian dari sejarahnya.

Islam sebagai agama yang –konon katanya— dianut oleh mayoritas penduduk nusantara dinilai sebagai faktor budaya yang turut mempengaruhi perjalanan sejarah baik makro dan mikro. Pada tingkatan makro tentunya membawa perubahan seperti pada sistem di jaman kerajaan, bangkitnya perang suci (holy war) dalam melawan penjajah, maupun juga konsep-konsep yang berkembang dalam sistem sosial-politiknya. Islam tidak hanya bergerak dalam ranah ritual semata, namun juga sebagai kekuatan resistensi kultural terhadap kolonial.

Dalam tingkatan mikro, masuk dan berkembangnya Islam sebagai suatu budaya dan perspektif membawa perubahan pada cara berpikir dan bertindak masyarakat. Bagaimana masyarakat memandang dan melakukan sesuatu amat berbeda jika dibandingkan dengan pra-Islam di nusantara ini.

Di sinilah kemudian muncul pertanyaan, apakah perubahan yang terjadi disebabkan oleh dinamika struktural yang terjadi dalam satu kesatuan bergerak, ataukah pergerakan menuju perubahan itu pada hakikatnya adalah pergerakan-pergerakan kecil yang terjadi di tingkat bawah? Kedua tesis inilah yang masih selalu menjadi perdebatan, masing-masing memiliki dasar pemikiran yang masih sama-sama kuat. Namun, ijinkan saya untuk kemudian “memilih” satu di antara kedua tesis tersebut mengenai perubahan jaman. Tesis yang tersebut terakhir agaknya akan lebih bisa diterima dalam menjelaskan mengenai perubahan jaman, yang dalam konteks ini adalah perubahan sosial, termasuk perkembangan peradaban di dalamnya.

Jika kemudian tesis tersebut yang dijadikan dasar dalam melihat perubahan sosial yang terjadi, mau-tidak-mau, perihal siapa/apa kekuatan yang menjadi penggerak perubahan sosial akan menjadi soal. Di sinilah kemudian kajian mengenai sejarah, antropologi, kebudayaan, dan humaniora memunculkan perannya.

Kiai: Aktor “Lintas Jaman”

Perbincangan mengenai tokoh penggerak dalam perubahan sosial, terdapat masa di mana peneliti-peneliti dari luar ramai melakukan perdebatan. Namun, secara garis besar, banyak yang menganggap bahwa ada struktur sosial-ekonomi besar yang ada di Indonesia, yang saling terhubung dengan lingkaran-lingkaran kecil yang memiliki kekuatan besar pula. Jika tidak, perubahan sosial dengan satu arah tertentu, akan bisa dibilang mustahil akan terjadi dengan pola yang rapi. Lalu, dari mana kekuatan besar yang dimiliki oleh lingkaran-lingkaran kuasa ini? Dan, yang lebih penting lagi, siapa yang berada dalam lingkaran tersebut?

Para peneliti Indonesianis menghubungkan perubahan sosial yang terjadi di Indonesia, terutama sangat berkaitan dengan arus peradaban yang datang dari luar, yang kemudian mengalami percampuran secara rapi dengan peradaban yang telah ada sejak lama sebelumnya. Di sinilah kemudian para Indonesianis mengambil posisi bahwa lingkaran-lingkaran kecil yang memiliki kekuatan untuk “mengarahkan” perubahan sosial dan sejarah di Indonesia adalah aktor yang dapat masuk dan memanfaatkan dua kekuatan besar yang sedang mencoba untuk bercampur dalam wilayah Nusantara, yaitu peradaban luar dan peradaban “asli” Nusantara.

Di sinilah kemudian—walaupun demi kepentingan akademis atau apapun—sebuah kajian penelitian harus bertumpu pada satu metodologi keilmuan yang jelas. Seharusnya perspektif yang menyeluruh digunakan peneliti dalam memandang mendalam sebuah permasalahan. Dalam arus peradaban yang bertemu, pada akhirnya bukan saja hanya kebudayaan, pola-pola kehidupan sosial, bahasa, dan agama yang bertemu. Sisi-sisi ekonomi-politik adalah paket yang datang bersamaan sebagai bagian dari peradaban tersebut. Maka, pertemuan dua arus besar ini sama artinya dengan pertemuan kebudayaan, pola sosial, bahasa, agama, ekonomi, dan politik.

Pada era 1960 hingga akhir 1990-an, adalah masa di mana penelitian mengenai Indonesia ramai dilakukan. Pesantren menjadi salah satu kajian utama dalam setiap penelitian mengenai Indonesia. Jelas, peradaban yang berkembang di Indonesia pada saat ini adalah semacam “hasil” dari eksistensi pesantren yang merupakan pusat peradaban di masing-masing kantong kebudayaan masyarakat. Dalam hal ini, pesantren sendiri merupakan edentifikasi dari masing-masing kiainya. Sedangkan kiai merupakan ujung-ujung eksistensi dari sedemikian struktur besar di atasnya. Mencakup jaringan keluarga, modal (baik ekonomi, sosial, maupun kultural), kekuasaan politik praktis, dan lain sebagainya. Semua variabel tersebut, pada akhirnya akan sangat sulit untuk ditentukan di mana yang paling berperan dalam membentuk arah tertentu. Satu-satunya hal yang paling mungkin untuk dikatakan adalah, salah satunya, melakukan kajian terhadap siapa/apa aktor yang berada dalam lingkaran-lingkaran “kecil” penggerak perubahan sosial.

Jika kemudian kiai yang dijadikan salah satu yang merupakan entitas determinan dalam lingkaran-lingkaran kecil penggerak perubahan sosial, selanjutnya kiai merupakan ujung-ujung eksistensi kekuatan besar yang ada di atasnya, di sinilah perbincangan yang akan menjadi menarik. Kiai yang merupakan ujung-ujung eksistensi tersebut, dengan latar besar di belakangnya yang bisa kita sebut sebagai jaring “kuasa”, adalah tokoh lintas jaman yang akan dapat “bertahan” karena kemampuan adaptasinya yang tinggi terhadap perubahan-perubahan kecil “di luar skenario” yang terjadi, dan selalu mencoba membenahinya untuk tetap selalu akan berada dalam “skenario”. Mengapa saya sebut sebagai skenario adalah, karena walau bagaimanapun jika dilihat dari perspektif struktural maka kiai merupakan “ujung eksistensi” itu, sebagai person dirinya adalah seorang pendakwah, individu bebas, atau bisa disebut sebagai aktor independen. Jadi, dalam perspektif ini, seorang kiai adalah sekaligus sebagai aktor dependen dan independen. Yang jelas, dengan kekuatan dan peran struktural kiai dalam masyarakan tersebut, kemampuan beradaptasi dan memanfaatkan jaman adalah bagian dari posisi kiai itu sendiri. Dengan hal ini, kiai adalah aktor “lintas jaman”.

“Hegemoni” Kultural

Lalu bagaimana jika para tokoh Islam dan pembaharu tersebut ditelaah dari sudut pandang biografinya dan disajikan dalam sebuah buku? Pasti akan menjadi sangat unik. Hal ini jelas karena dari cara-cara mereka melakukan dakwah dilakukan secara berbeda-beda. Inilah yang oleh Prof. Dr. Abdul Rachman Mas’ud sedang dilakukan dalam buku ini. Dalam buku ini, penulis mencoba menelusuri jejak yang dilakukan para tokoh semasa hidup dan mencoba menguak sejarahnya.

Sejak awal abad ke-19 sampai sekarang, Islam sendiri mengalami masa dinamika dan era penguatan pembaharuan. Era ini, Islam sebagai agama sudah banyak dianut masyarakat. Dengan dakwahnya, di samping sebagai usaha penyebaran agama, dimaksudkan juga sebagai upaya memperjuangkan Islam dalam etika dan budaya pada tingkatan lebih tinggi. Seperti pada jaman penjajahan misalnya, Islam dipandang sebagai suatu halangan laten ambisi kolonial dengan semangat “perang suci”. Kaum penjajah mencoba untuk mempersulit Islam untuk tumbuh dengan berbagai muslihatnya, termasuk di antaranya memasukkan utusannya meneliti Islam dan menggunakan penelitiannya untuk mengadu domba bangsa.

Kesemua hal tersebut dapat kita pahami dengan membaca biografi-biografi para tokoh lintas jaman yang terdokumentasi secara apik dalam buku ini, selain dari konsep mengenai pesantren dan sejarahnya yang akan dijelaskan pada bab awal buku. Karena tokoh-tokoh yang dipilih pun lintas jaman, di samping membaca jalan hidup dan pemikiran mereka, kita juga serasa diajak membaca sejarah di mana tokoh itu hidup. Dalam beberapa biografinya singkat juga diceritakan mengenai perjuangan dalam perjuangan Islam secara sosial-politik, baik di tingkatan elit dan yang utama pada tingkat kemasyarakatan. Dengan keadaan politik yang fluktuatif saat itu, keberadaan pesantren tidak hanya sekedar sebagai tempat menimba ilmu agama. Pesantren bahkan teramat besar perannya sebagai pusat perkembangan dan resistensi sosial politik atas penetrasi pemerintahan kolonial.

Bagaimanapun kita dapat melihat bahwa secara garis besar pembangunan budaya Islam di Indonesia mempunyai kecenderungan melalui cara-cara “hegemoni” secara kultural. Hal ini jelas dipengaruhi faktor historis bahwa dalam masyarakat kita, budaya-budaya lokal sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam kehidupan yang terlepas dari konteks kebudayaan lokal (global), “hegemoni” kultural pun menjadi metode paling efektif.

Seperti pada Walisongo yang terbukti dengan cara-cara “halusnya” mengubah kebudayaan Jawa dalam hal sosial-budaya dengan Islamnya. Walisongo dalam upaya penyebaran Islam menggunakan beberapa pendekatan yaitu perkawinan, pendidikan, budaya Jawa (lokal), dan politik.

Pendekatan-pendekatan yang oleh para tokoh dalam buku ini diterapkan pada dasarnya adalah pengembangan model “hegemoni”, walaupun mungkin memang hanya terbatas pada beberapa bidang saja. Melalui pendekatan “hegemoni” tersebut, penyebaran dan penguatan Islam di Indonesia dapat berjalan secara efektif. Penyebaran dan metode dakwah yang mencoba masuk melalui kehidupan keseharian seperti pendidikan dan budaya, akan dapat lebih mempengaruhi ketimbang penyebaran-penyebaran formal. Dan pada tingkatan yang lebih makro, pendekatan politik di tataran elit adalah metode yang digunakan.

Melalui buku ini, kita pun dapat merangkum sebuah garis imaji sejarah nasional yang berhubungan dengan membaca satu biografi tokoh satu dengan tokoh lain. Biografi yang tertulis dalam buku ini ibarat pecahan-pecahan yang membentuk jaringan informasi yang saling berhubungan. Dari sudut pandang biografi, kita dapat mencerna beberapa aspek. Antara lain hubungan antartokoh dan pemikiran dan model dakwah mereka yang memasuki ranah kehidupan manusia secara kontekstual. Hal ini karena tidak mungkin pembangunan moral dan agama dilakukan melalui cara-cara represi dan peraturan negara. Lebih lagi, kita dapat mencerna makna kehidupan dengan kebijaksanaan mereka, atau paling tidak sedikit berkenalan dengan pemikirannya.

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: