RI Undang Investor Asing?

Republika, 15 Oktober 2012

RI Undang Investor Asing?

Oleh Sayfa Auliya Achidsti

Pada (22/9) lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertolak ke New York menghadiri Sidang Majelis Umum PBB dan Panel Tingkat Tinggi. Lawatan tersebut secara resmi sebagai keikutsertaan Indonesia pada “High Level Panel on the Post-2015 Development Agenda”. Rangkaian acara Presiden Yodhoyono di New York tersebut sekaligus mempromosikan Indonesia sebagai tempat potensial investasi melalui forum “Indonesia Investment Day” (IID).

Dengan agenda lawatan New York tersebut, semakin tampak jelas bahwa arah pembangunan ekonomi di Indonesia adalah mekanisme pasar bebas. Lalu, apakah perekonomian nasional telah benar-benar siap?

Ekonomi Nasional

Indonesia sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dalam fluktuasi perekonomian global tentunya mendapatkan citra positif di mata internasional. Pada 2011, pertumbuhan ekonomi nasional 6,5 persen, sedangkan pada Triwulan I dan II di tahun 2012, relatif tidak jauh berubah yaitu sebesar 6,3 persen dan 6,4 persen (BPS, 2012). Produk Domestik Bruto di Indonesia yang telah berada di “tingkat atas” memasukkannya Indonesia sebagai salah satu negara G-20, memunculkan ekspektasi positif mengenai kemungkinan-kemungkinan investasi, salah satunya dengan promosi pada forum IID untuk menarik sebanyak-banyaknya investasi asing.

Namun, harus diperhatikan adalah bagaimana sebenarnya kondisi perekonomian di Indonesia dalam kaitannya dengan kesiapan investasi asing. Hingga 2012, nilai ekspor barang/jasa naik lebih dari 11 persen, sedangkan impor barang/jasa naik lebih dari 13 persen. Hal yang kontradiktif adalah penerapan kebijakan peningkatan pendapatan dari pajak. Padahal, kebijakan tersebut idealnya diterapkan saat terjadi prioritas pemulihan kas negara; dengan asumsi iklim bisnis dalam negeri mapan. Di sisi lain, pertumbuhan jumlah perusahaan tekstil, pakaian jadi, dan furnitur yang merupakan sub-sektor potensial ekspor di Indonesia, antara tahun 2001-2009, tidak terjadi pertambahan berarti, dari 5.938 perusahaan (pada 2001) menjadi 7.010 perusahaan (pada 2009) atau hanya sekitar 14 persen.

Memperbandingkan secara fair antara kondisi riil di Indonesia dengan harapan dan arah kebijakan-kebijakan yang diambil dalam pembangunan perekonomian, agaknya yang dilakukan pemerintah adalah pilihan yang kurang—jika tidak mengatakan ‘tidak’—sinkron. Pembukaan pintu masuk investasi asing ke Indonesia, di atas kertas, memang dapat memunculkan beberapa proyeksi multiple effect yang positif, seperti terbukanya lapangan pekerjaan, penambahan kas negara, dan penguatan ekonomi masyarakat. Namun, hal tersebut tentunya masih diperdebatkan karena pada dasarnya efek tersebut baru akan bisa tercapai setelah ada keterjaminan payung hukum dalam keberpihakan pada rakyat.

Penanaman modal asing (PMA) diatur dalam regulasi yang tidak begitu jelas pemisahannya dengan penanaman modal dalam negeri (PMDN), menunjukkan bahwa pemerintah tidak memiliki komitmen pembedaan antara penyikapan kepentingan dalam negeri dan asing. Payung hukum mengenai permodalan, UU No. 25/2007 tentang Penanaman Modal, dikeluarkan pada saat kondisi di Indonesia sedang dinilai mengalami kelesuan dalam investasi nasional dan masalah pengangguran. Prioritas pada saat itu adalah memuluskan investasi asing yang masuk. Namun, dengan berubahnya kondisi, seharusnya kebebasan penanaman modal plus insentif tanpa penyikapan khusus terhadap—terutama—modal asing dan hak pekerja harus ditinjau ulang.

Pembangunan Infrastruktur

Perdagangan dan penanaman modal antarnegara adalah sebuah mekanisme perekonomian yang—tidak bisa disangkal—menjadi keniscayaan. Maka, agenda-agenda lawatan dan pembukaan pintu masuk modal asing menjadi telah “cara main”dalam perekonomian dan komunikasi antarnegara. Namun, hal yang tidak bisa dikesampingkan adalah prasyarat menuju kesiapan pembukaan investasi asing. Perekonomian global dan pasar bebas ibarat arena di mana “persaingan” yang ditampilkan dalam istilah “kerja sama” dagang diisi oleh pihak-pihak yang telah mempersiapkan diri. Ekonomi pasar bebas memerlukan pondasi perekonomian nasional yang mapan, di mana salah satu ukurannya adalah kekuatan pengusaha nasional.

Dalam UUD 1945 Pasal 33, telah disebutkan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha berdasar asas kekeluargaan, dan bahwa cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak akan dikuasai negara. Namun, jika regulasi dan kebijakan nasional tidak berpihak pada penguatan ekonomi nasional, kerjasama ekonomi di tingkat global hanya menjadi pedang bermata dua bagi Indonesia. Dalam hal ini, sifat pasar adalah mencari lahan pasar dan faktor produksi. Indonesia telah memenuhi semua syarat tersebut sebagai pasar (tempat pemasaran dengan jumlah penduduk dan konsumsi yang tinggi) dan ketersediaan bahan baku, ditambah dengan banyaknya tenaga kerja murah. Pembukaan arus investasi asing tanpa diimbangi dengan kekuatan ekonomi nasional tentunya akan berimbas pada munculnya efek trade-off; di mana kepentingan kapital asing yang masuk dan berkembang akan menyisihkan proses penguatan dan perkembangan ekonomi nasional.

Mengenai keterlanjuran kondisi yang ada, masih terdapat peluang bagi Indonesia untuk memperkuat perekonomian nasional sebelum terlalu jauh masuk dalam persaingan bebas yang terlalu berat sebelah. Pertama, pembenahan infrastruktur industri strategis dengan tujuan penguatan kedaulatan. Pembangunan industri pangan adalah sektor yang urgen dibenahi untuk menekan impor. Hal ini sangat mungkin, karena industri pangan di Indonesia tidak memulai dari nol. Lebih lanjut, industri pangan harus dibarengi dengan infrastruktur transportasi—seperti jalan raya, kereta api, dan perkapalan—untuk efisiensi distribusi. Buruknya infrastruktur transportasi akan menimbulkan biaya tinggi dalam rantai distribusi, dan mengakibatkan tingginya harga di level konsumen.

Kedua, mendorong para pengusaha nasional dengan melakukan subsidi bagi industri berorientasi ekspor. Jumlah pengusaha di Indonesia yang dalam angka telah meningkat tajam pasca krisis Orde Baru tidak dibarengi dengan pengarahan industri swasta besar pada penguatan ekonomi nasional. Peningkatan industri kreatif bagaimanapun telah sangat berperan dalam mengurangi angka pengangguran, namun dalam kaitannya dengan orientasi pasar global, industri kreatif di Indonesia masih rentan terombang-ambing skema pasar global. Maka, prioritas pada industri ekspor oleh swasta ini patut untuk menjadi pertimbangan, di samping memang sifat industri kreatif yang lebih fleksibel berkembang dengan subsidi lepas dari negara. Ketiga, tentunya peninjauan ulang mengenai payung hukum yang mengatur penanaman modal di Indonesia, baik PMA maupun PMDN, dengan arah pemihakan yang lebih mempertimbangkan kepentingan rakyat. Secara umum, birokrasi dan hukum di Indonesia yang seringkali menghambat perkembangan pengusaha baru perlu direformasi.

Dengan terpenuhinya minimal ketiga upaya tersebut, kerja sama ekonomi skala global adalah hal yang boleh terkait dengan kepentingan nasional, sebagai prasyarat kesiapan Indonesia. Bahwa upaya yang dilakukan Presiden Yudhoyono menarik investor masuk ke Indonesia, hal itu akan menjadi keuntungan bagi perekonomian nasional dan hubungan diplomatik dengan siapnya prasyarat ketahanan perekonomian nasional.

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: