Perubahan yang Belum Tercapai

Banjarmasin Post, 10 Agustus 2011

Perubahan yang Belum Tercapai

oleh Sayfa Auliya Achidsti

Di mana pun, kekuatan moral kaum muda miliki kekuatan tanpa tanding. Hal tersebut karena dua hal: cita-cita perubahan dan ketidakpedulian pada apa yang sedang dihadapinya. Dalam peran perubahan, kedua hal tersebutlah yang membedakan antara pemuda dengan kelompok lain, di mana pemuda bergerak tanpa didasari perhitungan politik. Hal yang terpikir adalah perubahan akan adanya tirani dan ketidakadilan yang menyengsarakan rakyat, tanpa menghitung tuntas kekuatannya ketika harus berhadapan dengan tubuh raksasa rezim.

Kekusutan Politik

Sebutlah keberhasilan “Revolusi Jasmine” dengan puncaknya pada 14 Februari 2011 di Mesir, yang mampu menggulingkan rezim Hosni Mubarak.

Namun, selain selalu terdapat sejarah mengenai heroisme dan keberhasilan kaum muda dalam perkembangan sebuah bangsa, di sisi lain, selalu ada pula sejarah memilukan yang mengiringinya.     Kekuatan pemuda menjadi tunggangan kelompok politik yang selalu muncul saat rezim berhasil diruntuhkan. Begitu pula di Mesir pascakejatuhan Mubarak. Sekarang, yang diributkan adalah siapa yang mau membawa Mesir.

Perkembangan Mesir belakangan adalah mengemukanya politik sektarian yang dapat mengancam eksistensi negara. Berbagai pertentangan terjadi di antara kelompok yang awalnya justru berjuang bersama.

Sabtu (23/7), di Kairo terjadi bentrokan antara kelompok pengunjuk rasa dan dan massa pendukung Dewan Agung Militer akibatnya ratusan orang terluka.

Presiden Hosni Mubarak jatuh pada 11 Februari lalu. Namun, apakah kejatuhan rezim itu adalah tujuan final dari “Revolusi Jasmine”?

Tentunya tidak. Hal yang sebenarnya dituntut dari protes terhadap pemerintahan yang lalu adalah ketidakadilan, kediktatoran, dan kemiskinan yang tidak kunjung terselesaikan dalam puluhan tahunnya Mubarak berkuasa.

Kenyataannya, setelah keberhasilan turunnya Mubarak, kelompok yang tadinya bergerak dalam satu semangat mendukung protes pemuda, sekarang mulai menampakkan kepentingannya. Kekuatan moral yang mendasari perjuangan rakyat Mesir berubah bentuk menjadi kelompok dengan pertimbangan politik, yang memecahnya menjadi bagian-bagian yang saling bertentangan.

Dewan Agung Militer ingin melembagakan kekuasaannya dan berhadapan dengan ormas dan pemuda yang menuntut adanya segala proses transisi yang demokratis. Hal tersebut mengalami kompleksitasnya dengan ikut bermainnya pemerintahan peralihan yang dipimpin PM Essam Sharaf dan kepentingan partai-partai politik lain yang telah mengambil posisi duluan.

Kondisi Mesir menjadi lebih rumit di saat kepentingan politik yang bersifat pragmatis itu terbungkus dalam sentimen ideologi sensitif yang dipertentangkan.

Hal ini tentunya dapat dengan mudah memicu konflik lanjutan yang sebenarnya telah jauh dari cita-cita perjuangan melawan rezim Mubarak. Isu agama yang muncul di Mesir telah memunculkan garis pemisah antara kelompok islamis dengan liberal.

Pertentangan kedua kelompok ini tampak dalam perancangan proses transisi pemerintahan. Kelompok Islamis muncul dengan tuntutan melakukan pemilihan umum sebagai hal yang harus dilakukan terlebih dahulu daripada perubahan konstitusi.

Kelompok ini melakukan protes dengan adanya UU Pemilu yang diputuskan pemerintah. Sebaliknya, kubu liberal yang terbentuk dari beberapa ormas menuntut adanya pembentukan konstitusi baru sebelum adanya pemilihan umum di Mesir. Begitu pula dengan ketidakpuasan kelompok liberal dengan keputusan reshuffle kabinet oleh PM Sharaf.

Tuntutan Perubahan

Ada baiknya untuk melihat pengalaman yang telah terjadi di negara lain. Revolusi yang terjadi di Rusia (saat itu Soviet) atas penggulingan Tsar yang puncaknya pada 1917 pun mengalami kasus hampir sama.

Kelompok-kelompok politik tampil dan menggunakan sentimen revolusi/kontrarevolusi dalam menjatuhkan lawannya, yang sebelumnya berjuang bersama dalam menggulingkan Tsar.

Lalu, Revolusi Kemerdekaan di Indonesia, pascakemerdekaannya, adalah masa yang justru lebih sulit dari perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Perbedaan konsep dari berbagai pihak menjadi lebih rumit dengan kepentingan politiknya masing-masing.

Kedua negara tersebut, yang sama-sama punya sejarah revolusinya, boleh dibilang hampir saja kolaps jika para cendekiawan tidak turut bergerak sebagai pengontrol jalannya proses peralihan.

Pascaperolehan keberhasilan dalam revolusinya, kaum muda dan cendekiawan berjuang lebih keras mendamaikan pihak yang bertentangan dalam merumuskan format negara ke depannya, sekaligus memprotes para pemimpin dalam penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan.

Perjuangan setelah kejatuhan penguasa diktator adalah fase paling menentukan. Apakah idealisme perjuangan dapat tercapai, atau hanya sebatas pergantian penguasa itu akan tergantung fase ini.

Saya kira jika kaum muda dan cendekiawan Mesir bergerak kembali dalam menyelesaikan perjuangan yang telah setengah jalan ini, kekusutan tidak akan berlarut. Apalagi, Revolusi Mesir dikatakan sebagai revolusi kelas menengah, di mana kaum muda dan cendekiawan menjadi motor perjuangan itu.

Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan dalam “revolusi” yang belum tuntas ini. Pertama, minimal harus terdapat kesadaran kaum muda dan cendekiawan bahwa perjuangan bukan hanya demi penggulingan rezim, dan tetap memegang idealisme perjuangan awal.  Hal yang harus diubah adalah ketidakadilan, kediktatoran, dan kemiskinan. Sehingga, format yang akan datang mendatang adalah negara yang dapat mewujudkan tuntutan tersebut.

Tentunya hal tersebut tidak mudah. Apalagi dengan adanya beberapa pihak yang jadi motor revolusi, sekarang  telah mendapatkan posisi nyaman pemerintahan. Oleh karena itu, harus dilakukan hal kedua, yaitu penegakan hukum dan kebebasan berpendapat.

Kita tidak menginginkan perubahan di Mesir, dan di semua tempat pada umumnya, hanyalah perubahan penguasa. Kita berdoa agar idealisme masa perjuangan itu bukan sekadar bungkus politik.

http://banjarmasin.tribunnews.com/read/artikel/2011/8/10/94259/Perubahan-yang-Belum-Tercapai

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: