PMII, Peran, dan “Gelombang Tiga”

Media Kalimantan, 11 Maret 2011

PMII, Peran, dan “Gelombang Tiga”

(Sebuah Tanggapan kepada Kongres PMII XVII di Banjarbaru)

oleh Sayfa Auliya Achidsti

Bicara soal keberadaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), bukanlah persoalan mudah. PMII  adalah sebuah organisasi pergerakan mahasiswa yang terbentuk pada tahun 1960. Dari masa kelahirannya pada era tersebut, tentunya hingga hari ini PMII telah menjalani beberapa jaman yang berbeda.

Di tengah represi pemerintahan otoriter era Orde Baru (Orba), PMII mampu menunjukkan gerakan yang bertaring. Bagaimana tidak, dalam arus wacana yang terkotak oleh kekuatan wacana artifisial dari sebuah kekuatan tunggal rezim, PMII sanggup bertahan dan mencetak kader-kader berkualitas. Bukan hanya bertahan, gerakan yang berdasar pada semangat nasionalisme dan ahlussunnah wal jamaah ini dapat menawarkan wacana yang selalu “berbahaya” bagi rezim, sekaligus berkembang dan terus konsisten melawan.

Pembahasaan cerdas di satu sisi dan wacana kuat di sisi lain membuat PMII pada saat awal-awal pembentukannya menjadikan PMII, dalam hal gerakan, tidak hanya mengandalkan aksi jalanan, namun juga mengarahkan isu-isu strategis. Namun demikian, pertanyaannya kemudian apakah PMII setelah kelahiran dan masa kejayaannya tersebut, dapat meneruskan dan mengembangkan kebesarannya?

Wacana dan Eksistensi

Wacana, pada dasarnya merupakan esensi dari komunikasi. Dalam hal ini, komunikasi sendiri merupakan tanda eksistensi manusia. Tentunya jika komunikasi yang kemudian ditandakan sebagai sebuah eksistensi kehidupan manusia, komunikasi merupakan hal yang begitu penting; karena bagaimanapun manusia selain sebagai entitas individual (dengan sandang, pangan, dan papan sebagai kebutuhan pokok), sekaligus makhluk sosial dengan berbagai prasyarat eksistensinya.

Alvin Toffler, penulis futuristik asal New York, terangkat namanya dengan bukunya yang berjudul Future Shock (1970) yang membagi peradaban manusia dalam tiga kategori besar: Gelombang Pertama/First Wave (sebelum 1700), Kedua/Second Wave(1700-1970), dan Ketiga/Third Wave (1970-sekarang). Ciri Gelombang Pertama dalam peradaban manusia menurut Toffler tersebut adalah tradisionalitas beserta segala teknologi yang bernuansa manualnya. Dalam Gelombang Kedua, berkembangnya Revolusi Industri adalah dampak yang paling tampak.

Terakhir, dalam Gelombang Ketiga, dengan adanya teknologi komunikasi tinggi, wacana menjadi perihal yang dapat mengarahkan segala perhatian manusia secara masif. Tesis Toffler mengenai kuasa wacana pun sedikit banyak “didukung” oleh Thomas L. Friedman, seorang jurnalis Amerika, dalam buku masterpiece-nya, The World is Flat (2005). Friedman mengatakan bahwa komunikasi hari ini adalah persoalan yang lebih penting dari segala kebutuhan primer manusia sebagai entitas individualistis di atas.

Komunikasi, yang dalam taraf lebih kompleksnya membentuk sebuah wacana (maksud dan tujuan informatif-persuasif), pada perkembangannya terbagi menjadi dua kategori tindakan: aksi dan reaksi. Pewacanaan, pada dasarnya masuk dalam dua kategori besar tersebut karena sifatnya yang kontekstual. Ditarik dalam kehidupan kontemporer (sebut saja Gelombang Ketiga ala Toffler tersebut), pewacanaan adalah hal yang menjadi aktivitas rutin antarmanusia, antarkelompok, dan antar kepentingan.

Dalam hal inilah kemudian, pergerakan mahasiswa menjadi penting. Melawan, adalah persoalan mudah. Berkoar, memang segampang menghela nafas. Namun jika kemudian yang terjadi adalah berpikir dalam satu masa keterbatasan kondisi dan keleluasaan berpikir—seperti sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia—hal tersebutlah yang harus dihormati sebagai sebuah tanda eksistensi manusia dan keberadaannya membentuk organisasi. Mahasiswa dan kaum muda, yang pada perjuangan kemerdekaan turut mewarnai peta kekuatan bangsa Indonesia, tidak mereproduksi pejuang-pejuang bangsa lagi. Hal inilah yang kemudian dirasa oleh mahasiswa dan kaum muda di beberapa angkatan sesudahnya.

Proaktif Wacana!

Tanggal 14-16 April 1960 di Surabaya, mungkin merupakan jawaban dari kegelisahan kaum terpelajar anak bangsa Indonesia. Dengan pemilihan istilah “pergerakan”, PMII diharapkan untuk dapat bergerak, bukan hanya menghimpun kekuatan. Gerakan, yang berdasarkan semangat Islam dan keberpihakan pada bangsa Indonesia, adalah tumpuan harapan bangsa.

Menjadi amat disayangkan jika pada hari ini kemudian PMII hanya menjadi semacam organisasi himpunan  mahasiswa, tanpa dapat bergerak secara progresif. Kritis dan transformatif, adalah perihal yang kemudian harus mengikuti sifat progresif dari gerakan PMII. Pada hari ini, kita tidak heran jika melihat beberapa gerakan mahasiswa mati suri; hidup segan mati pun tak mau. Persoalan tersebut diakibatkan oleh mentalitas pragmatis dari para anggota organisasi dan pimpinan dalam organisasi tersebut.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) didirikan dengan semangat gerakan yang progresif, kritis, dan transformatif. Hal ini terbukti dengan berbagai isu yang diinisiasi oleh gerakan nasionalistik ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) Indonesia ini menjadikan setiing gerakan mahasiswa pada masanya. Pada era 1960-an, PMII mampu mengambil bagian dalam isu level nasional. PMII pada waktu itu sanggup berperan dalam mengadvokasi masyarakat dalam gempuran berbagai pergesekan perkawinan antara ideologi dan represi kekuasaan. Tak ubahnya pada masa reformasi 1998, gerakan PMII mencair dan beradaptasi dengan kondisi jaman; turut serta dalam mengawal demonstrasi melawan Soeharto. Dengan tidak memilih berhaluan individualis, PMII bekerjasama dengan gerakan lain atas nama pemuda dan mahasiswa, untuk membela rakyat. Hal tersebut bagaimanapun didasari kegelisahan PMII sebagai organisasi yang diisi kaum mahasiswa yang memiliki konsep dan visi ke depan, yang memihakkan dirinya terhadap kepentingan masyarakat.

Lebih lanjut, PMII memiliki “keberuntungan” di banding dengan elemen gerakan lain. Memang, dalam persoalan gerakan mahasiswa, semua elemen adalah satu. Namun, bagaimanapun, kita tidak dapat menafikan bahwa beberapa dari organisasi tersebut terlalu bersinggungan dengan poros politik, sehingga pemikiran, konsep, dan visinya agak sedikit banyak akan terpertanyakan kemurnian dan independensinya. Beberapa organisasi lain, secara sadar, diinfiltrasi ataupun memang terbentuk dengan tujuan mewujudkan ideologi yang agak bertentangan dengan semangat persatuan bangsa.

Dengan semangat nasionalistik dan “Aswaja”-nya itu, PMII seharusnya dapat mengawal kepentingan masyarakat luas. Menjadi disayangkan bahwa kita sebagai organisasi yang sudah besar sebelum lahir (dengan jumlah massa yang sedari awal memang sudah terbentuk) tidak memiliki sistem kaderisasi yang jelas. Sejatinya, organisasi pergerakan memanglah berfokus pada massa dan masyarakat; sehingga seharusnya memang level bawah adalah pokok perhatian yang penting di samping isu level nasional.

Untuk persoalan tersebut, kesadaran bahwa organisasi tingkatan cabang dan komisariat (kampus) adalah penting bagi gerakan organisasi tingkat nasional adalah satu paradigma yang harus diutamakan dalam reformasi kinerja organisasi. Isu pada tingkat cabang dan komisariat adalah satu hal yang urgen dan sejatinya menjadi dasar-dasar tindakan-sikap organisasi tingkat pengurus besar.

Yang jelas, kebijaksanaan (wise) para pemimpin organisasi dalam menyikapi isu yang berkembang dan dipersoalkan pada tingkat cabang dan komisariat sebagai sekumpulan isu penting untuk ditindaklanjuti; harus diupayakan untuk ada mulai saat ini. Gerakan dan koordinasi isu nasional dengan komunikasi antarcabang dan komisariat, adalah satu hal determinan yang akan menentukan keberhasilan tujuan organisasi, yaitu perubahan dan gerakan. Dalam hal ini, paradigma adaptatif menyesuaikan dengan perkembangan jaman adalah yang utama dalam tujuannya proaktif wacana!

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

3 Responses to PMII, Peran, dan “Gelombang Tiga”

  1. bosman says:

    ah, kurang menohok. banyak teori, langsung ke pusat sasaran donk Bung, jangan belok-belok Alvin Toffler. Kongres gimana, apa masalah di sana, dan sebaiknya/seharusnya gimana?

    • pikiranpemuda says:

      sebenernya rencana itu mau beberapa tulisan,,, nah itu pembukanya. tapi keburu walk out dari kongres mas.. ya,mau gimana lagi. bukan salah bunda mengandung, rombongan udah sampe jogja dan bersibuk2 dengan urusannya masing2. hahaha

  2. www.bowobengkulu.blogspot.com says:

    lanjutkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: