Adil Raja Disembah

KOMPAS, 29 Oktober 2010

Adil Raja Disembah

oleh Sayfa Auliya Achidsti

Anggaran kunjungan kerja yang totalnya dialokasikan mencapai 170 milyar itu memang telah menjadi dewan untuk melawat. Yang menjadi pertanyaan adalah, benarkah kunjungan kerja DPR ke negara lain itu dapat terlaksana sebagaimana idealismenya?

Kunjungan BK DPR ke Yunani untuk belajar etika, Komisi X yang ke Afrika Selatan-nya terkait pembahasan RUU Pramuka, dan  berbagai kunjungan kerja lain yang ada dimaksudkan untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas untuk merancang UU dalam negeri. Namun, hal ini justru merupakan pandangan naif, dan memperlihatkan kurangnya visi para anggota dewan itu sendiri.

Sebaik apapun suatu bidang yang telah berkembang dan tertata dalam sebuah negara, tidak dapat dengan serta-merta dengan mudah dilihat lalu diterapkan di negara kita. Memang, pada satu kesempatan, ahli politik Italia Giovanni Sartori pernah mengatakan bahwa jika kita berbicara tentang pengalaman Barat, kata kuncinya adalah ‘pengalaman’, bukan ‘Barat’-nya. Hal itu bermakna bahwa pengalaman siapapun dapat saja digunakan. Namun di sisi lain, sebagaimana juga pemikiran ahli pemerintahan Remy Prud’homme, dia mengatakan bahwa tidak ada satu model dan pengalaman suatu negara yang akan cocok diterapkan dalam negara yang lain.

Undang-undang (regulasi) bukan hanya sebuah benda bebas nilai layaknya yang dicari dalam benchmarking dalam agenda sebuah organisasi melawat kepada organisasi lain. Produk dari legislatif adalah regulasi yang akan berkaitan dengan rakyat setempat yang memiliki akar sejarah, nilai, pola pikir, dan kondisi yang sama sekali berbeda. Pada akhirnya, kunjungan kerja anggota dewan hanya akan benar-benar menjadi studi banding dalam artian yang sebenarnya: melihat, dan membandingkan.

Amnesia

Sebenarnya, untuk kunjungan kerja dan studi banding yang dilakukan dewan akan lebih menuai manfaat jika itu difokuskan dalam negeri sendiri. Dalam hal ini, beberapa hal dapat dilakukan. Pertama, jika berkaitan dengan masalah pembelajaran norma atau nilai beserta penerapannya, bangsa kita memiliki lebih banyak hal dari bangsa lain. Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa yang telah mengalami puncak peradabannya masing-masing, melebihi apa yang dikembangkan para filosof Yunani dalam idealisme dan kerangka retorikanya belaka. Bangsa Indonesia memiliki etika dan kearifan lokal di tiap-tiap tempat melebihi yang kita kira. Tentunya kita tidak mau jika tren konsumerisme sampai membobol pola pikir para dewan di gedung DPR, di mana dalam hal referensi etika pun harus mengimpor dari luar.

Kedua, dalam kaitannya dengan pembentukan regulasi, fokus pada pengamatan dalam masyarakat justru menjadi point penting yang harus dilakukan oleh para perancangnya. Hal ini berkaitan dengan sisi kontekstualitas, bahwa suatu peraturan akan diterapkan pada masyarakat setempat yang bersifat lokal dan tipikal, berbeda dengan negara lain. Berbagai kunjungan ke luar negeri untuk pembelajaran atau pengamatan kepemerintahan akan efisien dilakukan cukup dengan mengundang ahli dari negara maju terkait. Dengan kapasitasnya sebagai wakil rakyat, serta kemajuan teknologi dan informasi hari ini, tentunya hal yang mudah untuk sekadar memperoleh pemahaman seputar perkembangan di negara maju.

Ketiga, dengan intensifnya dewan untuk mengunjungi masyarakatnya, hal ini di sisi lain secara otomatis akan dapat memulihkan citra DPR yang merosot di mata masyarakat. Hal ini akan lebih produktif daripada mengalokasikan program dana aspirasi bagi anggota dewan yang kurang objektif dan lebih bersifat individualistik dalam pelaksanaannya.

Dengan pengubahan paradigma “menengok ke luar” menjadi “memahami ke dalam”, akan membentuk persepsi masyarakat bahwa para wakilnya adalah “Raja gung binantara” (pemimpin terhormat yang peka semesta). Tentunya, pengubahan paradigma ini juga sebagai upaya pencegahan akan adanya amnesia dalam segala tindakan para dewan; yang terkadang melupakan kekayaan sendiri dan kebutuhan masyarakat yang sangat relatif dan kontekstual, di mana bumi dipijak.

http://cetak.kompas.com/read/2010/10/29/17292426/adil.raja.disembah

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: