Terjangkit “Keong Racun”

KOMPAS, 25 Agustus 2010

Terjangkit “Keong Racun”

oleh Sayfa A. Achidsti

Perkembangan teknologi hari ini membuat segala hal dapat diakses dan terakses oleh siapapun di manapun. Tak heran jika beberapa orangtua akan was-was jika meninggalkan anaknya di depan layar komputer, terlebih dengan sambungan internet yang terpasang. Efek negatif dari internet itulah yang dikhawatirkan para orangtua terhadap anaknya, dan akan mencegah si Anak dari ketagihan berjelajah di dunia tanpa batas tersebut.

Namun, apa jadinya jika yang ternyata kecanduan adalah orang tua sendiri (red: orang dewasa)? Inilah yang terjadi dan menjadi fenomena hari ini. Bagaimanapun, tidak ada yang berhak untuk mengadili secara sekilas bahwa itu adalah efek buruk dari internet, namun hal ini memang terjadi sebab adanya internet itu. Lagu Buy Akur, Keong Racun, dengan “artist”-nya Shinta dan Jojo menjadi video yang mendadak tersohor di segala kalangan di negeri ini.

Dua gadis belia ini mencuat namanya ini pun dengan cepat dikenal masyarakat Indonesia. Tak ketinggalan, beberapa stasiun televisi mengundang mereka dalam talkshow-nya. Video lipsing lagu dangdut berjudul Keong Racun yang mereka upload melalui situs YouTube dan dipublikasikan melalui media Facebook ini sekarang telah disimak oleh puluhan ribu pasang mata.

Fenomena apakah ini? Apakah soal suaranya? Mereka “hanya” melakukan lipsync alias menggerak-gerakkan bibir layaknya orang bernyanyi saja. Atau, apa karena paras mereka yang muda belia dan menarik, seperti beberapa tanggapan dari para penggemarnya? Jika hanya soal itu, masih banyak yang lain yang mungkin lebih menarik dari artis “Keong Racun” tersebut. Walaupun mungkin terjadi hubungan sebab-akibat dari hal tersebut, ada sesuatu dibalik “Keong Racun” ini.

Globalisasi, dan Rakit ke Hulu

Dunia telah melewati ambang batas-batas fisik. Itulah yang menjadi fakta hari ini bahwa “globalisasi” telah begitu dikenal semua kalangan. Globalisasi menjadi hal yang akrab, demikian dengan penuansaannya sebagai kepastian jaman, yang semakin dikukuhkan oleh citra positifnya. Globalisasi—yang pada dasarnya bermakna kondisi global, sama, serentak, dan satu kesatuan—sebagai sebuah fakta, bersentuhan dengan berbagai diskursus sembari meredam kontroversi dan mitos atas keberadaannya. Dapat dibayangkan bahwa Orientalisme karya Edward W. Said, yang sejak akhir 1970-an sempat menjadi perbincangan dunia karena pemisahan Barat dan Timur, hari ini seakan “hanya” menjadi teori klasik kasuistik. Telah ada sesuatu yang diam-diam menghapus garis pembatas di dunia. Dialah globalisasi.

Menjadi hal yang luar biasa efeknya, pada saat kebutuhan akan interaksi tersebut diperkenalkan dengan instrumen yang memfasilitasinya, yang memungkinkan adanya interaksi tanpa halangan apapun. Hal ini membuat “atap bersama” terbentuk dengan pasti, dunia bagaikan satu atap, tanpa terpaut masalah jarak dan geografi. Meminjam istilah Thomas L. Friedman, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang mengalami percepatan tiap detiknya, membuat dunia mengalami pendataran.

Mungkin fenomena “Keong Racun”, di Indonesia, baru dapat dihitung dengan jari, termasuk dengan adanya aksi Shinta dan Jojo tersebut. Namun, di negara maju, hal ini sudah menjadi bagian dari gaya komunikasi dalam hubungannya dengan teknologi. Dalam hal ini, saya teringat akan artikel Lawrence Halprin, “The Real Meaning of Communication” dalam buku Communications in the Twenty-First Century (1981), mengatakan bahwa interaksi antarmanusia adalah pembentuk segalanya pada abad ke-21 ini. Dan, teknologi adalah sesuatu yang dapat memfasilitasinya dan membuat segala hal berjalan dengan cepat.

Keong Racun” yang pada kenyataannya sekarang dapat membius sebagian masyarakat Indonesia pun dapat menimbulkan kesimpulan bahwa ternyata teknologi informasi dan komunikasi telah begitu lekatnya dengan kehidupan masyarakat di negeri ini. Peribahasa “berakit-rakit kita ke hulu, berenang kita ke tepian” menjadi sekadar cerita lampau dengan kreativitas Shinta-Jojo yang membuat “video klip” dan mempublikasikan kepada dunia tanpa perlu berkeringat dan biaya sedikit pun. Dan, tren masyarakat yang sudah begitu mengenal internet membuat komplikasi kreativitas mereka dengan efek di masyarakat menjadi sebuah “jackpot”.

Melihat kondisi yang terjadi pada saat ini, yang menjadi terasa kemudian adalah fakta bahwa komunikasi masyarakat akan sulit terlepas konteksnya dengan teknologi sebagai instrumennya. Kemudian, apakah integrasi antara komunikasi, informasi, dan teknologi tersebut akan menimbulkan sesuatu yang berdampak positif? Jawabannya mungkin iya, dan mungkin juga tidak.

Konsumsi atau Produksi?

Integrasi antara komunikasi, informasi, dan teknologi dalam tingkatan tertentu memang terjadi. Dan, integrasi ketiga elemen ini akan memunculkan efek positif jika terkondisikan “prasyaratnya” terlebih dahulu, tentunya hal ini mengenai gaya hidup masyarakat bersangkutan. Penggunaan teknologi sebagai media berkomunikasi dan perolehan informasi karena proses “alami” akan membuat integrasi ketiga elemen tersebut bersifat produktif. Dalam artian, memang ada kebutuhan masyarakat untuk menggunakan dan mengembangkan teknologi tersebut sebagai instrumen.

Fenomena blog yang terjadi di Eropa dan Amerika dapat menjadi contoh akan proses yang menunjukkan adanya “kebutuhan” dari masyarakat atas integrasi tersebut. Pesona Webblog—situs pribadi di mana kita dapat bebas menulis dan memajang apapun di sana—yang meroket sejak dekade lalu adalah “kebutuhan”, sehingga perkembangan dan penggunaannya pun tidak bisa ditolak. Keterbatasan media yang sanggup mewadahi aspirasi masyarakat yang berkembang membuat individu-individu menggunakan blog sebagai wahana publikasi atas eksistensi mereka, baik dalam penulisan opini pribadi, kritik sosial, maupun pemberitaan dan jurnalistik amatir. Bisnis online dan aktivitas akademik yang padat pun membuat TIK terintegrasi dengan kehidupan masyarakat.

Yang kemudian menjadi soal adalah bagaimana jika integrasi ketiga elemen itu terjadi tanpa didasari kebutuhan dari masyarakatnya terlebih dahulu? Hal ini ibarat membiarkan anak kecil mendekati makanan untuk barang dagang, yang seharusnya dapat dijual malah habis dimakannya sendiri. Di Indonesia, dalam banyak hal, penetrasi teknologi informasi dan komunikasi yang sejatinya merupakan penyokong perkembangan kebutuhan informasi dan komunikasi, seringkali terpakai hanya sebagai instrumen hiburan belaka.

Banyaknya jumlah angkatan kerja berpendidikan dan minimnya lapangan kerja membentuk sebuah komplikasi: masyarakat pengangguran terdidik (melek teknologi) yang kurang produktif. Padahal, dengan perkembangan TIK yang sudah ada—yang sedikit banyak dapat membuat peribahasa “rakit” itu memudar—produktivitas tiap individu dapat berkali-lipat sebagaimana Shinta-Jojo dengan kreativitasnya tersebut. Pada kenyataannya sampai hari ini, perkembangan teknologi yang terjadi pada masyarakat kita tak ubahnya masih sebagai konsumsi, belum sebagai instrumen yang dibutuhkan untuk memproduksi sesuatu bernilai.

Memang, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di negara kita tak pelak karena imbas dari globalisasi. Tanpa perlu berkomentar akan konten-nya, Shinta-Jojo telah menunjukkan betapa masyarakat kita telah melek teknologi. Yang jadi persoalan, tinggal bagaimana membuat pola konsumtif dapat diubah menjadi aktivitas yang produktif. Jika dapat mengubah instrumen konsumsi ini menjadi alat produksi, era globalisasi sebagai “seorang” kawan adalah keniscayaan. Satu kuncinya: kreativitas.

http://cetak.kompas.com/read/2010/08/25/11172625/terjangkit.keong.racun#

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

6 Responses to Terjangkit “Keong Racun”

  1. eksan07 says:

    internet emang seperti pisau bermata dua, ada positif dan ada negatif

    • pikiranpemuda says:

      tapi kalo bisa pakenya,,,,pisau itu bisa bikin berbagai barang… produktif… hehe

  2. UAD BUSI says:

    Mas Sayfa. Saya ngarasa beruntung membaca pikiran-pikiran Anda ini. Semoga kelak di kemudian hari Anda menjadi salah satu dari Menteri di Republik Indonesia ini sehingga dengan demikian wajah pemerintahan Indonesia manjadi bersih dari KKN.

    • pikiranpemuda says:

      amin3….

  3. Buat orangtua akan was-was jika meninggalkan anaknya di depan layar komputer bisa blokir situs porno:
    ip:
    180.131.144.144 ato 180.131.145.145 *pilih salah satu aja

    trus DNS nya pake:
    208.67.222.222 or 208.67.220.220 *pilih salah satu aja

    • pikiranpemuda says:

      nuwunz coy,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: