Pendidikan Mirip Sebuah Barang

KOMPAS, 23 Juli 2010

Pendidikan Mirip Sebuah Barang

Oleh Sayfa Auliya Achidsti

Telah terjadi perubahan tren masyarakat dalam hubungannya dengan dunia pendidikan. Teringat novel Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata (2005) yang menceritakan sebuah SD di Belitung dengan segala keterbatasan dalam kegiatan pendidikannya. Atau, film Denias, Senandung di Atas Awan (2006) dengan latar Papua-nya. Kehidupan yang diceritakan keduanya menggambarkan kondisi di mana orangtua cenderung berat untuk melepas anaknya sekolah karena harus bekerja.

Namun, jika dulu orangtua enggan menyekolahkan anaknya dengan alasan untuk bekerja, seperti contoh pada novel dan film tersebut, sekarang tidak lagi demikian. Orangtua selalu ingin menyekolahkan anaknya, namun terbentur masalah biaya. Terlebih, pada setiap menjelang tahun ajaran baru, para orangtua siswa akan pusing mencari barang apa lagi yang bisa dibawanya ke pegadaian, untuk membeli seragam dan buku baru.

Investasi dan Instrumentalisasi

John Locke, filsuf Inggris, mengatakan bahwa negara tidak akan maju tanpa adanya pengembangan dalam pendidikannya. Bahkan, filsuf liberalis ini semacam Locke pun mempunyai pikiran bahwa pendidikan adalah sebuah faktor determinan dalam mengubah kehidupan bangsa dan negara, maka dari itu, pendidikan adalah hal yang harus disediakan.

Pendidikan, sejatinya adalah sebuah hal yang harus terpenuhi dalam suatu negara. Oleh sebab itu, Negara selaku institusi yang mempunyai fungsi penyedia layanan, harus selalu mengkondisikan agar pendidikan yang aksesibel tersedia bagi masyarakatnya. Satu hal yang tidak bisa dibayangkan jika pemerintah yang memiliki kekuatan paling legal dan otoritatif sampai membiarkan komersialisasi masuk dalam dunia pendidikan.

Kita bisa lihat yang terjadi sekarang. Biaya pendidikan tiap tahun meningkat, ditambah dengan “keharusan” membeli seragam dan buku dari sekolah dengan biaya mahal, yang dipadu dalam kondisi sulitnya kebutuhan pokok lain. Dengan menyekolahkan anaknya sekarang, para orangtua berharap bahwa kelak biaya yang dikeluarkan untuk sekolah itu akan terganti dengan pekerjaan yang didapatkan anaknya kelak. Pendidikan bagaikan sebuah barang yang harus dibeli dengan harga mahal, demi investasi masa datang.

Sekolah, yang tidak ingin “mengecewakan” orangtua siswa, kemudian menyesuaikan aktivitas pendidikannya dengan berbagai improvisasi. Para siswa didorong untuk selalu berprestasi dan meningkatkan nilai akademiknya. Proses belajar-mengajar berubah menjadi pelatihan cara taktis mendapat nilai rapor dan ujian akhir. Komersialisasi pendidikan yang pada akhirnya menyebabkan pendidikan yang bersifat instrumental.

Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan kita, mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu aktivitas olah rasa lan olah nalar. Dengan “duet” antara komersialisasi dan implikasinya (instrumentalisasi), membuat substansi pendidikan hilang. Yang ada kemudian bukannya siswa yang terdidik, namun hanya dalam level terlatih. Para orangtua membeli jasa sekolah untuk melatih anaknya demi dunia kerja. Menjadi lebih kompleks kemudian, sekolah seakan melihat keterdesakan para orangtua tersebut di antara kuatnya persaingan kerja yang mengharuskan menyekolahkan anak. Tidak jarang kemudian, tiap awal tahun ajaran, sekolah “menawarkan” buku dan seragam, dengan harga tidak murah.

Berbagai hal di atas itulah yang kemudian membuat bangsa kita kalah dengan yang lain dalam hal pendidikan seberapapun digenjot, karena yang kemudian muncul adalah pendidikan instrumental, bukan substansial dengan olah rasa lan nalar-nya yang mengutamakan proses dalam belajar. Sekolah bukan lagi menjadi tempat belajar seperti dalam kisah Laskar Pelangi dan Denias yang disertai cita-cita tinggi. Jika pemerintah, dengan segala otoritas legalnya, tidak memahami esensi pendidikan dan tidak mau mengontrol aktivitas sekolah-sekolah, bisa dibayangkan beberapa tahun ke depan kebobrokan dunia pendidikan Indonesia, baik dari jumlah lulusan, maupun lulusan yang ada dengan pola pikir komersil.

http://kompas.realviewusa.com/default.aspx?iid=38580&startpage=page0000004

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

3 Responses to Pendidikan Mirip Sebuah Barang

  1. Achid BS says:

    Terus menulis, ya, Mas.

  2. bunda majid says:

    acung jempol buat mas syaifa!emoga menjadi inspirasi to adek2 (sepupu) yg laen dan saya.

    • pikiranpemuda says:

      hehe,,, amin3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: