Identitas, Intelektualitas, dan “Germa” Yogya

KOMPAS, 28 Oktober 2009

Identitas, Intelektualitas, dan “Germa” Yogya

Oleh Sayfa Auliya Achidsti

Tidak akan pernah habis jika kita membicarakan dinamika sosial, terlebih jika itu dilakukan kalangan mahasiswa di mana diskusi adalah makanan sehari-harinya. Sifat mahasiswa yang mempunyai fitrah sebagai pencari ilmu itu seakan membuatnya tidak pernah kehabisan bahan bakar untuk membicarakan “wilayah kerjanya”, yaitu ilmu dan peran ideal mahasiswa: the agent of change.

Saya jadi teringat artikel mengenai komunitas epistemik yang beberapa saat lalu ditulis Adde M Wirasenjaya (Kompas, 13 Oktober) yang berisi “curhatannya” mengenai perubahan sosial di Yogyakarta. Secara garis besar, saya setuju dengan pembahasan yang dilakukan Adde mengenai itu. Siapa pun tidak dapat menyangkal perubahan di Yogyakarta dalam konteks sosial budayanya sudah bergerak menuju era konsumerisme. Namun, ada sisi menarik terlupa, yaitu apa sesuatu yang bergerak dan menjadi latar di baliknya.

Seperti kita tahu, era kolonialisme dengan penetrasi pihak Belanda yang melebar ke berbagai wilayah saat itu membuat semua merasakan imbasnya. Terlepas dari berbagai kerugiannya, invasi Belanda untuk ke sekian kalinya itu membuat pemerintahan Indonesia untuk sementara dipindah ke Yogyakarta sekitar tahun 1946-1949. Pemilihan Yogyakarta saat itu tentu dengan berbagai pertimbangan, di antaranya karena peta sosial politik yang strategis dan kekuatan Yogya dengan kedudukan keraton dan Sultan yang relatif kuat pada saat itu.

Hal tersebut tentu menimbulkan beberapa imbas dan “efek domino” yang cukup determinan. Para tokoh baik lokal maupun nasional berkumpul di satu titik, Yogyakarta. Dalam hal ini, proses sentralisasi kekuatan tidak hanya semata dalam hal politik, sentralisasi rupanya juga berkembang dalam hal intelektualitas.

Tidak heran di era tersebut perkembangan dalam bidang akademik sangat dinamis. Universitas Islam Indonesia (UII) muncul sebagai kampus tertua yang lahir di Yogyakarta, menyusul kemudian Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menjadi kampus negeri pertama di Indonesia. Kesemuanya turut didukung kekuatan politik saat itu, termasuk dari keraton.

Pergeseran paradigma

Sampai saat ini, berbagai komunitas masih ada, tidak meninggalkan sifat dinamisnya yang dari dulu selalu berkembang. Namun, dinamika ini jika diamati ternyata lebih mengarah pada sebuah pergeseran daripada sebuah perkembangan. Pergeseran yang terjadi adalah pada pola pikir yang ada yang mendasari berbagai aktivitas komunitas-komunitas tersebut: kehilangan gairah intelektualitasnya menjadi pragmatisme.

Sebelum puncak reformasi, komunitas seni dan intelektual “bentukan” era Orba merupakan forum penting yang membicarakan permasalahan sosial politik pada saat itu. Mahasiswa dari berbagai kampus tanpa dikomando serempak membentuk forum yang menjadi arena “curhatnya” mengenai otoritarianisme Orba.

Dalam hal budaya intelektualitas, mahasiswa datang ke Yogyakarta dari berbagai daerah membawa modal yang sama: semangat belajar. Hal itulah yang berpengaruh dalam atmosfer komunikasi mahasiswa. Yang kaya dengan yang miskin, orang kota dengan yang dari desa mempunyai titel yang sama, mahasiswa. Kesetaraan dalam komunikasi dan hubungannya terjalin dalam bingkai intelektualitas.

Berbeda halnya dengan kenyataan sekarang. Mahasiswa datang dari daerah masing-masing dengan membawa uang beserta kehidupan glamornya (yang kaya), sedangkan yang datang dari desa menjadi mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah-pulang kuliah-pulang) dengan keminderannya. Idealisme dan intelektualitas mulai tergeser dengan pragmatisme materialis dan pola konsumtif. Adapun komunitas yang tersisa hanyalah perkumpulan yang memfasilitasi kebutuhan akan hiburan (entertain) dan gaya hidup material mereka. Tak ayal, kafe dan tempat nongkrong yang menyediakan keunikan kuliner dan hiburan muncul di mana-mana seperti yang diungkapkan Adde.

Adde menilai, lanskap kota adalah satu hal determinan dalam pergeseran budaya mahasiswa tersebut. Benarkah karena hal itu? Akan lebih bijak kiranya jika turut menganalisisnya dari sudut pandang dinamika pergerakan mahasiswa (germa), tempat di mana idealisme mahasiswa selalu berputar.

Menarik jika kita melihat dari sudut pandang idealisme organisasi germa tersebut karena, bagaimanapun, idealisme mahasiswa tidak akan pernah hilang. Namun, pada kenyataannya selepas puncak perjuangan reformasi 1998, mahasiswa memang kehilangan “musuh bersama”.

Aliansi mahasiswa lintas batas kembali mengangkat batasan dan identitas bendera masing-masing: PMII, HMI, GMNI, GMKI, dan lainnya. Akhirnya, politik identitas menjadi satu-satunya ranah yang diperjuangkan oleh germa. Kenaifan mereka seakan melupakan teori Edward W Said yang mungkin menjadi kuliah sehari-harinya, “Identitas adalah sesuatu yang tak pernah lahir sendiri dan tidak akan mungkin bisa diabsolutkan”. Mereka lebih mengedepankan eksistensi organisasi masing-masing dan melupakan peran menyangkut masyarakat sekitarnya. Eforia reformasi telah membuat bias dalam penentuan sasaran pergerakan.

Orientasi pergerakan menjadi hanya bagaimana cara “mendominasi” kampus dan menarik kader sebanyak-banyaknya. Hal ini pada implikasinya menyebabkan pecahnya kekuatan mahasiswa menjadi bagian-bagian kecil yang lemah: mahasiswa tidak memiliki posisi tawar dalam hal kekuatan. Lebih dari itu, terjadi kemandulan intelektualitas dengan banyaknya diskusi yang hanya berkutat pada tingkatan talk only no action. Citra germa yang begitu anjlok di mata masyarakat membuat gap yang jauh di antara keduanya.

Kedua hal itulah yang semakin mengukuhkan pergeseran budaya dan pola pikir mahasiswa Yogyakarta, dari yang semula bergerak dalam ranah intelektualitas menjadi materialisme semata. Yang pertama, gaya konsumtif yang membuat tolak ukur dan idealitas sebagian mahasiswa berubah sehingga mengotak-ngotakkan menjadi dua kelas, glamor dan marginal. Yang kedua adalah idealisme mahasiswa yang masih ada namun telah menurun menjadi pragmatisme dengan “keegoisan-keegoisan” germa tersebut.

Hal ini menjadi lebih complicated sifatnya pada saat pembangunan fisik di Yogyakarta juga turut “memfasilitasi” kapitalisme pasar, di mana materialisme memang menjadi bahan bakarnya. Pembangunan yang bersifat konsumtif menjadi lebih dominan sifatnya daripada pembangunan yang merangsang aktivitas intelektual mahasiswa. Komersialisasi pendidikan pun tak ubahnya menjadi bumbu yang efektif dalam mengubah orientasi mahasiswa dalam pola pikir dan aktivitasnya.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/27/1508408/identitas.intelektualitas.dan.germa.yogya

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

One Response to Identitas, Intelektualitas, dan “Germa” Yogya

  1. Assalamualaikum wr wb. Mas Sayfa, ditungu karya tulis selanjutnya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: