Fenomena Mitos dan Brand, dan “Modernisasi” dalam Budaya Masyarakat Yogyakarta

Dalam Rerasan Untuk Jogja (Yogyakarta: IMPULSE, 2009)

Fenomena Mitos dan Brand, dan “Modernisasi” dalam Budaya Masyarakat Yogyakarta

Oleh Sayfa Auliya Achidsti

 

Ramah, tepa selira, murah hati, lugu, pekewuh, dan masih banyak sifat luhur lain yang diidentikkan sebagai karakter masyarakat yang hidup di Yogyakarta, manusia Jogja. “Orang-orang luar” Jogja memandang manusia Jogja mempunyai sifat-sifat seperti itu yang telah menjadi sebuah anggapan  tersendiri pada sebuah wilayah geografis Yogyakarta.

Setiap yang mendengar kata Yogyakarta, bayangan mengenai berbagai sifat luhur tersebut secara tidak sadar juga melintas. Terlebih pada wisatawan, mereka datang selain untuk menikmati keindahan materi di Yogyakarta, juga dengan sebuah “pengharapan” agar bisa merasakan apa yang selalu dituliskan dalam buku panduan wisata mengenai kelebihan manusia Jogja dalam komunikasi ke-Jogja-annya tersebut.

Uniknya, hal seperti ini pun terjadi dalam pikiran-pikiran para manusia Jogja sendiri. “Terjadi” di sini bukan dalam pembicaraan bahwa sifat tersebut dilakukan manusia Jogja, namun dalam konteks ternyata masyarakat Jogja sendiri pun menganggap sifat tersebut adalah karakter manusia Jogja. Masyarakat Jogja tak ubahnya seperti wisatawan yang merupakan “orang luar” yang menilai sekilas mengenai sifat manusia Jogja dari sedikit informasi dari buku panduan wisata dan para guide-nya.

Pelabelan mengenai sifat dan nilai mengenai manusia Jogja seakan-akan berevolusi menjadi sebuah mitos, atau apapun namanya, yang merebak merasuki pikiran masyarakat baik “orang luar” maupun masyarakat Jogjanya sendiri. Malinowski mengutarakan bahwa mitos adalah semacam cerita yang dengannya akan menimbulkan sebuah fungsi sosial. Sebuah mitos pada dasarnya mempunyai kekuatan justifikasi pranata di masa kini. Menjadi relevan kiranya jika kita menyebut bahwa peng-identik-an sifat tersebut sebagai karakter manusia Jogja sudah mencapai  pada tingkatan sebuah mitos dengan adanya respon dari global maupun lokalnya sendiri.

Kasus serupa juga terjadi seperti pada analisis sosial yang dilakukan Mochtar Lubis mengenai karakter manusia Indonesia yang banyak menuai perbincangan dan polemik. Mochtar Lubis mengatakan bahwa karakteristik manusia Indonesia mempunyai tiga jenis refleksinya. Yang pertama adalah sifat malas yang merupakan stigma pada manusia Indonesia. Yang kedua adalah sifatnya yang pasif sehingga membawa dampak pada kurang bisa responsif terhadap perkembangan. Dan yang ketiga, terakhir, adalah naif.

Sifat-sifat manusia Jogja seperti ramah, tepa selira, lugu, dan lainnya -yang sebenarnya merupakan sifat ideal secara universal namun menjadi kelebihan karena nuansa lokalnya- yang dilabelkan kepada masyarakat Yogyakarta tersebut bukan tanpa alasan. Anggapan “orang-orang luar” seperti ini muncul oleh pengalaman dan pengendapan pengamatan yang memakan waktu cukup lama. Hal ini menyangkut hakikat pelabelan sesuatu, bahwasanya sebuah ciri atau karakter akan diberikan kepada sesuatu tersebut apabila berbagai “pengujian” ulang kepadanya memperoleh hasil yang sama. Seperti misalnya pengamatan terhadap tumbuhan yang setelah melewati berbagai berbagai percobaan pada akhirnya diketahui akan mempunyai kecenderungan tumbuh menuju arah cahaya, atau mengenai lumba-lumba yang dikenal sebagai ikan pintar, atau hal-hal lainnya.

Dalam hal ini, pelabelan yang diberikan dari  global (orang-orang luar) mengenai sifat dan nilai yang berkembang pada manusia Jogja pun tidak ubahnya seperti sebuah hipotesis yang muncul karena adanya fenomena dan berbagai “pengujian ulang” tersebut. Tentunya analogi laboratorium ini dalam konteks kesan mengenai budaya (dan nilai) luhurnya yang sukses berkembang melalui mekanisme oral yang dilakukan “orang luar”.

Budaya, Kesan, Oralitas, dan Branding

Pembentukan sebuah brand di sini dapat dibilang cukup hebat. Lihat saja, bagaimana seorang wisatawan yang hendak bepergian ke luar hotel yang lupa membawa peta namun tetap tenang-tenang saja, atau juga seorang lulusan sekolah menengah yang mempunyai beberapa alternatif tujuan perguruan tinggi luar kota yang menaruh kampus-kampus Yogyakarta dalam urutan atas dengan alasan kenyamanan atmosfer komunikasi dan budayanya.

Hal-hal seperti ini jika diletakkan dalam sebuah rasionalitas logika akan membingungkan. Kita tidak akan membayangkan seorang pendatang yang ingin berwisata akan dapat menikmati perjalanan wisatanya tanpa adanya peta petunjuk daerah yang belum dikenalinya. Atau bagaimana mungkin seorang lulusan sekolah menengah luar kota meletakkan Yogyakarta sebagai urutan teratas pemilihan kampusnya, sedangkan di sisi lain dia juga belum pernah men-survey keadaan kampus-kampus alternatifnya tersebut.

Hal ini kembali lagi pada pembicaraan mengenai bagaimana sesuatu yang tadinya hanya berupa kesan pada akhirnya sampai pada bentuk brand yang menilai mengenai kerakteristik manusia Jogja. Kita tahu bahwa sebuah hipotesis (analogi dari brand) akan terjadi jika objek penelitiannya tersebut mempunyai hasil yang relatif sama terus-menerus dalam pengujiannya. Namun apakah dalam “pengujian” mengenai sifat dan nilai manusia Jogja ini seperti pengujian dalam laboratorium tersebut?

Sesuatu yang menarik, karena tentunya “pengujian” dalam konteks sifat dan nilai manusia Jogja tidak bisa seperti pengujian ilmiah dalam laboratorium. Jelas tidak mungkin jika semua individu masyarakat, dalam sebuah wilayah geografis (Yogyakarta), akan mempunyai sifat dan nilai yang sama seperti itu. Hal yang sangat sulit jika benar-benar akan melakukan pengujian di mana pada satu sisi terdapat sebuah kenyataan kuat bahwa –bahkan- pada dua orang saudara satu rumah pun sifat dan nilai yang dimiliki dan terlihat akan berbeda satu sama lain.

Antara adik dan kakaknya, mungkin akan terlihat bahwa si adik adalah individu yang pemarah namun sekaligus juga mudah tertawa, terbuka, dan supel. Sedangkan si kakak ternyata tidak begitu supel dalam pergaulan, secara emosional stabil, dan pekerja keras. Walaupun secara umum, nilai yang telihat pada dua bersaudara ini sama karena sejak kecil hidup dalam satu rumah -seperti misalnya sopan, ringan tangan, dan jujur-, namun itu masih dalam konteks nilai dan belum pada sifat.

Nilai sendiri merupakan hasil yang muncul dari budaya tertentu. Jadi, sebuah nilai adalah output dari sebuah budaya, maka budaya itu adalah alat pembentuk nilai. Dalam hubungannya budaya dengan nilai, budaya adalah kreasi dari manusianya sendiri, dari pengendapan cipta, rasa, dan karsa. Nilai adalah sesuatu turunan yang mengikuti budaya yang ada, yang merupakan bentuk internalisasi idealitas budaya. Maka dapat ditarik “garis kronologi” bahwa budaya sebagai konstruksi sosial memunculkan norma sebagai semacam penunjuk jalannya, dan akhirnya terjadi internalisasi menjadi sebuah bentuk nilai yang “dianut” masyarakatnya.

Pada kasus tersebut, terjadi beberapa nilai yang dipegang dan terinternalisasi dalam diri dua bersaudara tersebut yang kurang lebih sama karena adanya “budaya” yang dibudayakan oleh kedua orangtuanya. Budaya dalam tingkatan sederhana (dalam keluarga) tersebut pun memunculkan nilai-nilai tertentu dalam perkembangan pribadi masing-masing anggota keluarganya. Seperti misalnya, orangtua yang membiasakan pemakaian bahasa daerah yang notabene mempunyai perbedaan diksi (pilihan kata) -seperti krama yang berdiksi halus dan ngoko dengan diksi relatif kasar dalam komunikasi untuk sesama umur dan status sebagaimana dalam Bahasa Jawa- dalam komunikasi sehari-hari. Adanya bahasa berdiksi halus yang hanya digunakan saat berhadapan dengan orang yang lebih tua atau yang patut dihormati tersebut pada beberapa tingkatan menimbulkan efek pada munculnya sikap mudah menghargai dan sopan santun dalam bersikap. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya norma bahwa sebuah ketidaksopanan jika tidak menggunakan bahasa halus kepada orangtua, dan ketidaksopanan itu adalah kesalahan Ada lagi fakta bahwa ternyata orangtua dari dua bersaudara tersebut membiasakan untuk berdiskusi dalam keluarga yang pada perkembangannya akan menimbulkan beberapa sikap kejujuran, dan lain sebagainya. Hal ini dengan adanya perasaan tabu jika menutup-nutupi sesuatu dalam keluarga. Pada perkembangannya yang lebih jauh, sikap yang terbentuk dari lahirnya nilai karena budaya keluarga ini mempunyai kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang menuju ranah sifat dan kepribadian dengan adanya kenyataan bahwa budaya keluarga adalah pembentuk sifat yang sebenarnya.

Dalam konteks yang lebih luas lagi dalam pembicaraan mengenai “manusia Jogja”, rupanya terjadi nilai-nilai tertentu yang terlihat pada beberapa –atau mayoritas- masyarakatnya Yogyakarta. Nilai keramahtamahan, ke-tepaselira-an, dan lainnya itu dianggap sebagai nilai masyarakat Yogyakarta. Nilai tersebut –yang rasanya lebih pantas jika disebut nilai “manusia Jogja”- pun terbentuk dari budaya-budaya yang hidup di Yogyakarta. Beberapa budaya seperti penggunaan bahasa krama dan unggah-ungguh (etika dan sopan santun dalam menghadapi orang lain) dalam berperilaku yang ditularkan secara turun-temurun tersebut mempunyai peran penting dalam pembentukan nilai individu dan masyarakatnya.

Dengan adanya beberapa budaya Yogyakarta semacam itulah nilai terbentuk. Hal ini terlepas adanya pembicaraan mengenai “nilai” tersebut pun sebenarnya masih dalam konteks asumsi-asumsi sebab bagaimanapun dalam beberapa hal itu bersifat relatif. Beberapa budaya yang memunculkan norna dalam masyarakat tersebutpun -tak ubahnya seperti pada kasus dua bersaudara tadi- menimbulkan beberapa nilai. Siapapun tidak bisa menutup kemungkinan bahwa nilai yang kemungkinan berkembang adalah memang beberapa nilai yang diasumsikan tersebut, yaitu: ramah tamah, tepa selira, murah hati, lugu, dan lainnya. Dan itulah yang lagi-lagi diasumsikan sebagai sifat –bahkan beberapa mengasumsikan sebagai sifat dasar- manusia Jogja.

Adanya mekanisme oral atau yang disebut dengan penyebaran berita secara lisan mempunyai peran determinan dalam kasus pembentukan brand ini. Perlu disertai catatan bahwa mekanisme lisan yang dimaksud di sini bukan hanya sebatas saling menceritakan secara obrolan (lisan dalam arti leksikal), namun lebih luas yaitu pewacanaan dan penyebaran opini melalui berbagai cara. Dalam hal ini, pewacanaan dan opini yang berkembang tersebut lebih condong pada emosionalitas relatif dan mengesampingkan “sisi ilmiah” sebagaimana analogi hipotesis berlatarbelakang uji berulang dengan hasil mutlak tadi. Sisi emosionalitas itulah yang disebut dengan fenomena kesan yang menjadi sebuah brand.

“Orang-orang luar” daerah yang mengamati budaya dan norma yang hidup di Yogyakarta mempunyai persepsi sendiri yang timbul di kepalanya. Dengan melihat perilaku masyarakat yang sejalan dengan norma-norma universal dan pada beberapa tingkatan dibahasakan secara lokal, maka terjadilah kesan positif dalam penilaiannya terhadap masyarakat Yogyakarta. Dalam benak mereka timbul kesan mengakar bahwa budaya, norma, nilai, dan sifat masyakarat Yogyakarta (“manusia Jogja”) memang seperti itulah adanya. Dan dalam beberapa hal menjadi sebuah kondisi take for given atau bahkan sebuah general truth untuk melihat orang berasal dari Yogyakarta bersikap ramah dan lugu.

Sampai di sini, kemudian muncullah sebuah pribadi ideal dalam benak orang mengenai adanya “manusia Jogja” dengan budaya, norma, nilai, dan sifat seperti tersebut. Pibadi ideal tersebut pun berkembang menjadi semacam “tuduhan” di mana masyarakat dalam lingkup batas geografis Yogyakarta mau tidak mau menjadi dan “harus” seperti “manusia Jogja” yang sedang mereka pikirkan.

Yang seperti ini tak ubahnya seperti sebuah pembayangan bawah sadar mengenai bagaimana manusia Jogja dalam kepribadian ideal seharusnyanya. Baik “orang luar” maupun masyarakat yang tinggal dalam wilayah Yogyakarta sendiri pada perkembangannya mempunyai sebuah karakter (tokoh) dengan sifat-sifat tersebut yang berada pada satu sisi kepala (bayangan dalam pikiran) dan mempunyai titel sebagai orang Yogyakarta.

Perbenturan pada Batas Khayal, dan “Modernisasi”

Mengakarnya suatu anggapan mengenai manusia Jogja tersebut pada beberapa tingkatan memunculkan sebuah “egoisme” tersendiri pada pikiran-pikiran “orang luar” Yogyakarta. Dari sini kita bisa memahami bagaimana sebuah kasus wisatawan yang tenang saat lupa membawa peta ataupun kampus Yogyakarta sebagai urutan atas dalam alternatif si lulusan sekolah menengah luar kota tersebut.

Sebuah “egoisme” dalam pikiran mereka tersebut jelas terlihat dalam kecenderungan sikap wisatawan itu yang seakan-akan merasa bahwa tanpa adanya perencanaan mereka akan tetap dengan mudah nantinya untuk sampai ke tujuannya. Mereka berasumsi untuk meminta pertolongan kepada orang di Yogyakarta adalah mudah dan kemungkinan untuk survive dalam wilayah ini sangat tinggi dengan sifat manusia Jogja yang murah hati tersebut.

Hal serupa pada si calon mahasiswa tersebut di mana merasa bahwa persoalan kuliah adalah masalah kenyamanan demi mencapai hasil akademik yang maksimal. Oleh karena itu alternatif kampus pun mengalami seleksi di mana lingkungan budaya dan komunikasi masyarakat di rasa tenang, nyaman, dan mendukung motivasi belajarnya. Dan pemilihan kampus Yogyakarta sebagai kampus list pertama benar-benar dipengaruhi adanya brand yang tersebar pada global (masyarakat luas).

Permasalahan muncul pada saat si wisatawan dan calon mahasiswa itu pada suatu saat tidak menjumpai apa yang mereka kira sebelumnya. Wisatawan yang tersesat karena ternyata untuk mendapat informasi dari orang sekitar sangat sulit misalnya. Atau juga pada mahasiswa yang setelah menjalani kehidupan perkuliahan dan pergaulan dengan teman-teman mahasiswa lain merasa tidak cocok dan malah ingin pindah kuliah misalnya. Hal ini memperlihatkan adanya perbenturan antara sebuah pelabelan pada sekelompok masyarakat yang mengarah pada mitos tersebut dengan kenyataan di lapangan yang sebenarnya. Adanya pelabelan yang menjadi semacam bentuk mitos itu juga pada satu sisi melupakan adanya kenataan bahwa budaya, norma, dan nilai adalah sesuatu yang sifatnya sangat dinamis.

Satu hal yang menarik adalah pada fenomena banyaknya “kekecewaan” dari orang-orang luar pada saat masuk ke Yogyakarta karena ternyata mereka tidak menjumpai di mana “manusia Jogja” yang dikhayalkan tersebut. Mereka hanya menjumpai sekelompok individu yang tidak berbeda dengan lainnya. Hal ini menjadi lebih dirasakan pada contoh kasus mahasiswa rantau tersebut misalnya.

Pada kasus mahasiswa dengan “kekecewaannya” atas kenyataan bahwa keadaan yang ada ternyata berbeda, hal ini terjadi akibat beberapa faktor. Yang pertama tentunya karena kenyataan tidak adanya sebuah wilayah yang diisi oleh “manusia Jogja”, dan yang kedua adalah perkembangan budaya masyarakat di Yogyakarta itu sendiri.

Mahasiswa rantau dari luar kota tersebut melihat kampus dan lingkungannya tidak seperti bayangannya pada satu sisi, dan kenyataan mulai berubahnya budaya yang mengarah pada “modernisasi” di sisi lain. Bahwa dengan banyaknya pendatang baru dan memang karena perkembangan budaya global, hal itu menyebabkan lunturnya budaya, norma, dan nilai manusia Jogja yang sedari dulu menjadi kebanggaan baik orang luar maupun masyarakatnya sendiri mengenai Yogyakarta –dalam konteks bahwa brand yang diberikan memang benar adanya-. Adanya proses modernisasi tersebut menjadi satu faktor determinan yang akan paling bertanggungjawab atas banyaknya “kekecewaan” orang luar melihat Jogja pada perkembangannya sekarang.

Kecenderungan yang terjadi pada budaya masyarakat Yogyakarta sekarang “hanyalah” budaya sebagai refleksi kepentingan yang majemuk, jadi hanya bergerak pada ranah pragmatis. Hal ini adalah konsekuensi di mana pendatang baru datang dengan jumlah yang relatif banyak secara bebarengan. Kedatangan pendatang dari berbagai daerah yang juga membawa adat kebiasaan dan tentunya kepentingan tersebut, karena datang dalam waktu yang relatif bersamaan, maka tidak mengalami sebuah mekanisme internalisasi budaya, norma, dan nilai lokal Jogja yang pada dasarnya bergerak pada ranah transenden.

Sebuah “invasi” budaya luar kepada budaya lokal –dalam hal ini Jogja- telah terjadi di sini. “Invasi” budaya sebenarnya bisa memunculkan perkembangan budaya daerah bersangkutan dengan adanya sebuah proses yang dinamakan akulturasi, asimilasi, sinkretisme, dan lain sejenisnya. Namun dalam kasus ini, budaya yang “menginvasi” itu merupakan individu-individu dengan budaya masing-masing yang berbeda. Budaya yang masuk bukan merupakan sebuah kesatuan budaya tersendiri, namun lebih pada sporadis dan motivasi kepentingan masing-masing pendatang.

Dalam hal ini kampus, budaya yang berkembang di sana hanya sebatas menuju pada kompromi-kompromi kepentingan dan kebiasaan yang berbeda. Di sinilah budaya dalam konteks lokal dan transendental mulai memudar karena yang terbentuk dari perbedaan kepentingan dan kebiasaan hanya dalam ranah pragmatis. Terjadi apa yang dinamakan generalisasi pada tataran nilai di mana yang akhirnya tampak dan berkembang hanyalah kepentingan-kepentingan saja. Adanya generalisasi nilai ini pun menjadi konsekuensi oleh sebab suatu daerah –atau pada contoh ini adalah kampus- pada perkembangannya dianalogikan sebagai mangkuk besar berisi kuah sup (budaya lokal) yang dikucuri dengan beberapa kuah makanan lain (masuknya pendatang dengan kepentingan dan adatnya masing-masing). Akan menjadi sebuah rasa yang amat berbeda dari rasa asal makanannya, bahkan sudah tidak dapat diketahui rasa baru tersebut berasal dari makanan jenis mana, dan pada sisi yang lain tidak ada yang dapat menduga apakah rasa baru tersebut menjadi semakin lezat atau sebaliknya.

Perubahan budaya pragmatis ini sendiri pada perkembangannya terbagai menjadi dua sisi. Yang pertama adalah positif di mana nilai dan mimpi universal (universal dream) seperti keegaliteran, kompetisi, ketegasan, dan keseriusan kerja akan muncul sebagai dampak adanya pergesekan antara banyaknya kepentingan dan kebiasaan daerah yang berbaur dalam satu wadah.

Dalam bentuk yang kedua adalah berkembangnya budaya materialistis yang muncul akibat pertemuan banyak individu dengan masing-masing latar belakang dan kepentingannya. Dari kondisi seperti inilah norma-norma lokal yang menjunjung tinggi kearifan luntur dan tergantikan dengan gaya hidup hedonis, yang amat diperlihatkan oleh kalangan mahasiswa contohnya. Penekanan positif pada pembicaraan mengenai norma dan kearifan lokal di sini bukan dalam hal etnosentrisme daerah tertentu pastinya. Namun hal ini berangkat dari pemahaman bahwa sejatinya norma dan kearifan lokal nusantara dalam beberapa hal mempunyai nilai keluhuran yang relatif sama yang diperjuangkan.

Sebuah Bangunan yang Rentan

Shock culture jelas akan dirasakan semua golongan masyarakat jika pekembangan yang terakhir itu yang terjadi. Masing-masing individu akan merasa asing di Yogyakarta bahkan masyarakat Yogyakarta-nya sendiri. Kondisi gesselschaft secara tidak disadari kita alami, di mana masyarakat yang ada hanya seperti sekumpulan orang yang tidak saling mengenal yang kebetulan bersebelahan menonton pertandingan bola. Memang mereka mempunyai beberapa tindakan yang sama seperti menyoraki tim yang sama dan berteriak serentak untuk mendukung tim-nya tersebut. Namun itu hanya komunikasi semu, kesamaan dalam kepentingan berada di satu wilayah tanpa ada hal penting yang mendasar. Nilai yang ada sudah amat berbeda dan tidak berdasar pada suatu apapun kecuali penyimpangan oleh karena pertemuan banyaknya kebiasaan dan kepentingan yang dihadapkan dengan globalisasi saat ini. Sebuah modernisasi yang atavistik terjadi di mana tidak jelas asalnya dan tidak ada satu pun nilai yang diperjuangkan

Dengan adanya kenyataan yang seperti ini pun, ternyata pada beberapa golongan masyarakatnya tidak menyadarinya. Ketidaksadaran tersebut pada perkembangannya lebih cocok jika dinamakan dengan ketidakpedulian karena telah melewati beberapa proses panjang perkembangan budaya. Masyarakat Yogyakarta sudah tidak ngeh lagi (tidak sadar) apabila merekalah “manusia Jogja” sejatinya. Bagaimana tidak dikatakan begitu, dengan keadaan yang seperti ini malah mereka –dan mungkin bahkan kita- dengan bangga mengatakan bahwa inilah globalisasi dan modernisasi.

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa kondisi sekarang adalah keadaan gesselschaft yang meradang, hal ini terus berkembang menjadi sebuah kerentanan tersendiri bagi “sebuah” Yogyakarta. Tidak seperti dulu dengan budaya dan bahasa ibu yang begitu dijunjung dan tertanam begitu lekatnya, kondisi semakin ke sini semakin mengambarkan Yogyakarta seperti sebuah bangunan yang hanya terbuat dari pasir basah, bukan bangunan beton yang kuat. Bangunan pasir yang begitu indah dilihat dari kejauhan, namun itu hanyalah keindahan semu di mana tersenggol sedikit saja dipastikan akan ambruk. Tidak berlebihan kiranya menyebut demikian karena memang kekuatan suatu daerah sebagai suatu entitas adalah kuatnya budaya yang merupakan tanda bahwa daerah itu ada. Namun perlu dipahami juga hal ini bukan sebagai upaya pengukuhan etnisitas atau sebuah etnosentris.

Sebenarnya bukan sebuah perilaku ketinggalan jaman bila kita sedikit “rela” untuk menggunakan bahasa ibu (dalam hal ini tentu bahasa Jawa) dalam percakapan keseharian. Bukan asal diksi Jawa, namun perlu juga diperhatikan estetika dalam penggunaannya, karena kita tahu dalam bahasa Jawa sendiri terdapat krama dan ngoko. Penggunaan krama untuk orang lain adalah simbolisasi mengenai status dalam konteks moralnya (bukan status material atau ‘strata sosial’). Revitalisasi bahasa daerah seperti ini mempunyai banyak fungsi. Yang pertama, jelas, pada beberapa tingkatan akan menumbuhkan perilaku identitas (tanpa adanya maksud etnosentris) ke-Yogyakarta-an. Hal yang mungkin “remeh” ini adalah pemantik bagi penguatan-penguatan lain seputar budaya ibu yang beberapa waktu belakangan mulai luntur dimakan invasi budaya. Fungsi kedua adalah pembentukan mental manusia Jogja itu sendiri. Kerendah-hatian, tepa selira, unggah-ungguh, dan lainnya bukan lagi akan menjadi merek bagi Yogyakarta yang seringkali bahkan mengecewakan karena pada kenyataan tidak ditemukan. Sifat-sifat luhur khas Jogja itulah isi dari Yogyakarta yang sebenarnya.

 

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

8 Responses to Fenomena Mitos dan Brand, dan “Modernisasi” dalam Budaya Masyarakat Yogyakarta

  1. bima says:

    keren,,,jarang2 blog isinya kayak gini,, teruskan bung..

  2. karolly says:

    thx untuk info ny kk,cz ak butuh buat mapel mata kuliah

    • pikiranpemuda says:

      sama2…. selamat produktif..!!^_^

  3. pikiranpemuda says:

    iya,,,doakan aja bisa lebih produktif…

  4. taufan says:

    terimakasih info dan bahan2nya….berguna sekali

  5. sawwie says:

    thanx referensinya..^_^

  6. handi says:

    good job dude !!
    semoga infonya berguna buat kita semua untuk menjaga kebudayaan bangsa kita.

    • pikiranpemuda says:

      yah, kalau bukan kita,,, masa yang mau jaga malaysia.? hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: