Pemilu dan Harapan Kosong

KOMPAS, 27 Maret 2009

 

Pemilu dan Harapan Kosong

Oleh Sayfa Auliya Achidsti

Rasionalitas masyarakat sudah mengalami pergeseran. Dalam konteks kondisi sosial dan politik, pergeseran rasionalitas tersebut mulai mengarah pada kecenderungan pragmatisme. Mengapa bisa terjadi pragmatisme dalam pemikiran rasional mereka?

Weber membagi rasionalitas dalam dua garis besar, rasionalitas nilai dan tujuan. Rasionalitas nilai adalah pengambilan keputusan berdasar nilai yang dipegang. Dalam hubungannya dengan Pemilu, rasionalitas nilai adalah bagaimana pemilih menjatuhkan pilihan pada calon yang dirasa sesuai dan sama dengan nilai dalam dirinya, baik itu agama, pemikiran, maupun programnya. Rasionalitas tujuan sendiri diartikan sebagai pola pikir yang berorientasi pada apa yang akan didapat. Pemilih memutuskan pilihannya pada calon yang dirasa akan dapat memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Rasionalitas inilah yang kemudian mengarah pada pragmatisme masyarakat.

Berkembangnya pragmatisme dalam masyarakat adalah sebuah refleksi dari kekecewaan yang sekian lama telah mereka alami. Partisipasi pada pemilihan-pemilihan yang lalu ternyata tidak membawa perubahan. Antara sebelum dan setelah memberikan suaranya,kondisinya sama. Yang lapar tetap lapar, yang tidak bisa sekolah tetap tidak bisa masuk sekolah, dan lain sebagainya.

Pemilihan Umum (Pemilu) mendatang pun sudah bukan menjadi sebuah momen untuk mencurahkan harapan kepada para calon yang akan menjadi wakilnya dalam kursi dewan. Program dan janji yang ditawarkan calon legislatif (caleg) sudah tidak lagi terdengar menarik. Tidak ada yang mereka dapat dan rasakan dari program dan janji caleg. Kampanye dan sosialisasi caleg sudah tidak lagi terlalu diminati. Acara hiburan pada kampanye itulah yang nyatanya lebih ditunggu, seperti band, dangdut, dan lainnya.

Kasus lain yang lebih ironis yaitu malah dinantikannya kegiatan “amal” dan “serangan fajar” para caleg. Bahkan sering penduduk kampungnya sendiri yang menanyakan akan adakah kegiatan membagikan bantuan berupa uang atau sembako dilakukan setelah adanya sosialisasi di situ.

Ketidakpercayaan akan perubahan kondisi setelah Pemilu membuat masyarakat menuntut para caleg memberikan secuil kebahagiaan sekarang, bukan nanti-nanti saat dia sudah terpilih. Lebih ditunggunya hiburan dan bantuan daripada sosialisasi program adalah gambaran jelas dari sikap pragmatis masyarakat akibat apatisme pada caleg.

Fenomena sosial (tren) dalam masyarakat tersebut pun sedikit banyak mengubah pola dan cara kampanye caleg layaknya logika marketing di mana terjadi perubahan demand maka supply akan menyesuaikan. Para caleg, bagaimanapun akhirnya akan menyikapi dan mengikuti pola yang berkembang di masyarakat. Mereka pun menjadi lebih banyak berkampanye melalui pengadaan hiburan dan “bantuan” langsung seperti yang diinginkan. Hal seperti ini mereka rasa akan dapat secara efektif memobilisasi perhatian masyarakat daripada repot-repot memikirkan sosialisasi program yang mungkin mereka sendiri kurang mengerti. Kalaupun ada beberapa sosialisasi program, itu hanya merupakan selingan di tengah acara hiburan dan “bantuan” yang sedang berlangsung.

Kedua hal tersebut, apatisme masyarakat dan logika politisi yang tidak mau repot, yang akhirnya mengubah kondisi dan mental sosial masyarakat menjadi rasional yang amat pragmatis. Demokrasi, dengan perwujudannya Pemilu, sekarang seakan hanya menjadi suntikan kegembiraan sesaat masyarakat yang dimanfaatkan para caleg yang melupakan sisi moral untuk memenuhi program dan janjinya.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/27/13533417/pemilu.dan.harapan.kosong

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: