Nilai Pragmatis Bisnis Dilematis

KOMPAS, 26 Desember 2008

Nilai Pragmatis Bisnis Dilematis

Oleh Sayfa Auliya Achidsti

Baru-baru ini kita dikagetkan oleh terbitnya Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP). UU yang sudah menuai kontroversi sejak masih berupa rancangan ini akhirnya disahkan pada 17 Desember lalu.

Materi yang menjadi isi dari UU ini oleh banyak pihak dipandang sebagai proses evolusi dunia pendidikan yang mengarah pada komersialisasi dan tumbuhnya semangat kapitalisme.

Terbentuknya UU BHP memang merupakan penjabaran UU No.20 Pasal 53 ayat 1 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) bahwa semua penyelenggara pendidikan dan atau satuan pendidikan formal, baik yang didirikan oleh pemerintah maupun masyarakat, harus berbentuk badan hukum pendidikan. Namun, pada perkembangannya pengesahan UU BHP disinyalir hanya merupakan kepentingan golongan saja dan bernuansa komoditas. Komersialisasi dan kapitalisme asing juga menjadi kekhawatiran tersendiri dengan pengesahan UU ini.

Hal tersebut tidak lepas dari materi yang dirasa masih belum memihak kepada rakyat. Tuntutan uji materi terus didengungkan. Hal itu terkait beberapa pasal yang kurang mendapat persetujuan masyarakat. Terjadi perbedaan pandangan antara masyarakat dengan para pembuat keputusan, misalnya pada pasal Pasal 14 ayat 4 disebutkan pemerintah dan pemerintah daerah menanggung paling sedikit sepertiga dari biaya operasional penyelenggaraan pendidikan menengah. Lalu, Pasal 41 ayat 7 yang menyebutkan peserta didik menanggung paling banyak sepertiga dari biaya operasional. Regulasi yang terkesan memaksa menjadi pandangan masyarakat mengenai pasal tersebut. Sementara itu, para anggota dewan mengatakan bahwa ini adalah langkah melindungi peserta didik.

Terlepas dari perdebatan materi UU, pada dasarnya dapat diambil suatu kesimpulan objektif, seperti dibicarakan dalam Seminar BHP oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional bahwa dengan adanya BHP keterlibatan pemerintah, baik pusat maupun daerah dalam bidang akademik, administrasi, dan keuangan, mau tidak mau menjadi berkurang. Hal ini karena penyelenggaraan pendidikan ditentukan oleh fungsi organ-organ yang ada dalam BHP.

Pendekatan Pendidikan Indonesia

Dikatakan Saurip Kadi (Mengutamakan Rakyat, 2008), di negara berkembang sektor pendidikan masih dijadikan sebagai output pembangunan. Entah hal itu karena kebelumngertian pemerintah dan warga negara dalam perspektif kehidupan pembangunan, ataukah keadaan yang mengkondisikan hal tersebut.

Terdapat pergeseran pendekatan dan pola pandang atas dunia kependidikan di Indonesia. Pendekatan dan proses belajar dalam pendidikan kita rupanya mengarah pada pola tradisional (artian negatif) dengan ciri orientasi target secara kuantitas, penyeragaman struktur, tidak berorientasi pada nilai dari input dan output-nya inilah yang terjadi dalam dunia pendidikan kita. Padahal Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan meliputi olah nalar lan olah roso (nalar dan hati).

Pragmatisme menjadi alasan mengapa sampai terjadi kesalahkaprahan konsep dunia pendidikan. Idealnya, pendidikan adalah proses “memanusiakan manusia”. Dengan memegang konsep dan “jargon” tersebut, pola pendidikan kita seharusnya lebih menghargai rasionalisasi ideologi, dan bukan pragmatisme semata.

Dengan munculnya UU BHP tersebut, kekhawatiran atas internalisasi nilai menjadi terlebih lagi. Masalah biaya pendidikan lambat-laun akan menjadi masalah laten. Proses “memanusiakan manusia” tidak mungkin dibayangi masalah pembiayaan yang ketat. Akankah terbayang, nilai apa yang akan berkembang dalam proses belajar jika harus dibarengi dengan pengorbanan biaya besar? Idealkah, atau pragmatisme sempit berorientasi materi dan pengembalian modal?

Perlu diketahui bahwa rasionalisasi ideologi adalah utama dalam pembentukan nilai yang terinternalisasi dalam diri individu. Internalisasi nilai inilah yang menentukan pola sikap dan perilaku dalam mengimplementasikan ilmu. Dengan terwujudnya hal tersebut, tujuan utama dari adanya pengembangan sektor pendidikan baru dapat dikatakan telah tercapai.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/26/11173625/nilai.pragmatis.bisnis.dilematis

About pikiranpemuda
Sayfa Auliya Achidsti. Lahir di Purbalingga, 11 Agustus 1989. Bersekolah dan tinggal di Yogyakarta. Mengambil pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Masa mahasiswanya berkegiatan di organisasi kampus dan pers mahasiswa (Bulaksumur Pos dan LPM Sintesa). Hingga saat ini sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: